Belum terpikirkan
Wednesday, September 02, 2009
7:13 AM
Pagi ini seperti biasanya bangun tidur, cuci muka dan sikat gigi, dandan kecil-kecilan, sarapan, ngopi, ngerokok sebatang dan siap-siap berangkat ke tempat yang menjenuhkan “kampus”. Begitulah seorang pemuda yang bernama Panjoel Kusuma, mahasiswa Ektensi Ilmu Perpustakaan di salah satu Universitas Negeri di Negara ini, walaupun dia dari D3 Bahasa Arab, dengan modal nekat dia masuk Ekstensi Ilmu Perpustakaan tanpa bekal sedikitpun. Dan sekarang dia sedang menuai masalah dari kenekatannya itu, karena menurut aturan tidak boleh lintas jurusan, tapi menurut hasil ujian masuk, dia keterima.
“bu.. Berangkat dulu ya..salam likum” dia selalu ingat pesan dari kakeknya yang mengharuskan pamit ketika hendak berpergian.
“Memang benar kata orang, setiap pagi tuhan selalu menyebarkan rejekinya dimana-mana, nah..kalo yang ini namanya rejeki buat mataku” sambil melirik sejenak ke salah satu barisan yang sudah terbiasa menunggu angkutan umum untuk selanjutnya mengantarkan mereka ke tempat yang mengasyikan “SMU”. Masa yang indah dan tak terlupakan adalah masa ketika aku masih duduk di bangku SMU, memang belum ada teori yang menguatkan tentang hal itu tapi ini masalah kenyataan yang aku rasakan bukan lagi teori.
“ya sudahlah, aku harus berjalan terus walaupun sudah 26 tahun umurku, kuhabiskan untuk sekolah tapi ini juga untuk bekalku kelak”.
Dengan kuda besi kesayangannya yang tak jelas surat-suratnya itu yang selalu setia menemaninya kemanapun dia pergi.
“weh…memang kok, masak lampu merah pada jalan semua? Pada buta warna apa ya? Terus aku berhenti sendirian nih ceritanya, ah..malu ah..ga ada temennya”
Lho..kok dia malah ikutan ngelanggar lampu merah alias traffic light toh? Ini makna dari pepatah “ala bisa karena biasa”. Karena udah pada kebiasaan ngelanggar lampu merah, jadi yang seharusnya berhenti ketika lampu berwarna merah akhirnya bisa jalan. Untung aja pak polisi juga banyak yang ikutan ngelanggar jadi yang lain akhirnya ikut ngelanggar deh dan anehnya lagi jarang sekali ada tabrakan di setiap perempatan yang nota bene traffic light nya tidak ngaruh bagi pengguna jalan. Kok bisa ya?
“bang…” seperti biasa kalo mau parkir harus menyapa abang-abang yang ditugasi menjaga parkiran kampus biar semakin akrab, kan kita adalah saudara walaupun tidak sebapak dan seibu tapi setidaknya kita semua keturunan Adam dan Hawa.
“nah itu ada tempat kosong, si bongsor ini akan aku tancapkan di sana saja” baru aja selesai memarkirkan motor ada suara yang agak sedikit mangejutkan
“eh, motormu ada STNK nya ga?” ternyata bang Karto yang sedang bersuara
“mak..kayak polisi aja ah nanya surat segala, ada dong tapi masa berlakunya udah habis 5 tahun yang lalu bang” sambil menunjukkan suratnya ke bang karto.
“tumben motor kau ada STNKnya, biasanya ga ada”, sambil senyum manis khas bang Karto dengan alis yang diangkat-angkat dikit.
“ya sekali-kalilah bang agak tertib dikit” Wah ternyata aku udah dihafalin ni, setiap bawa motor pasti ga ada surat-suratnya.
“eh yang biasanya kau bawa mana? Yang ga ada surat-suratnya? Kok malah ganti lagi, hehehehehe…pasti masuk bengkel toh” tebak bang Karto
“benar sekali bang, maklumlah motorku usianya udah pada uzur semua, yang paling muda saja keluaran tahun 61, apalagi yang lain bang” mencoba untuk mengelak tapi ga bisa dan akhirnya ya menghibur diri sendiri deh
“hahahahahaha…memangnya kau punya motor berapa? Kayak konglongmerat aja yang ngoleksi banyak barang-barang antik, motor tua, mobil tua bahkan ada juga yang iseng-iseng ngoleksi Benda Cagar Budaya” bang Karto mulai berkelakar lagi ni kalo ditanggapi terus
“udahlah bang, aku mau masuk dulu ni, kasihan mahasiswaku udah pada nunggu tu di kelas” sambil beranjak dari tempat tempat parkir
“matamu njoel..Panjoel..kuliah D3 aja lulus 6 tahun kok malah nggaya, ya udah sana” sambil kedua tangannya di kepakkan tepat di depan dadanya menandakan usiran halus ala Karto.
Ya, begitulah Karto, yang nama lengkapnya Panji Sukarto, pegawai honorer di salah satu Universitas Negeri terkemuka di Negara ini, pengabdiannya pada kampus yang sudah hampir 40 tahun itu, hanya menyandang status pegawai honorer. Mungkin karena dia juga orang jawa dan menganut paham nrimo opo anane (nerima apa adanya) jadi masalah status kepegawaiannya tidak begitu dia permasalahkan, walaupun terkadang dia juga bingung dengan sistem dan aturan yang selalu menghambatnya ketika ada pengangkatan pegawai dari honorer menjadi tetap. Namun aku juga terkadang heran melihat bang Karto, udah tau hidupnya susah tapi disetiap harinya dia selalu saja ceria, kayak ga ada beban dalam hidupnya.
“saya dengar angkatan yang baru sekarang ada yang bukan dari D3 Ilmu perpustakaan atau Kearsipan ya?”, “kan sudah saya katakan program ini tidak bisa lintas jurusan, soalnya ini didirikan khusus buat yang ngelanjut saja”, “selain itu kita juga ga ada matrikulasinya, ya udah tanya aja dulu sama dekan ya” demikianlah pernyataan dari ketua jurusan ilmu perpustakaan beberapa waku yang lalu, dan jelas ketika itu aku kaget plus senang. Kagetnya karena berarti ini masalah, dan harus aku hadapi, senangnya adalah bahwa saya berhasil lolos ujian pertama untuk bisa mendapatkan ilmu yang sangat aku idam-idamkan sejak dulu. Nah sekarang pertanyaannya “aku bisa lolos ga pada ujian yang kedua, yaitu ngelobi dekan dan kajur kelak?” tanya Panjoel dalam hati sambil mengingat-ingat perkataan pak kajur beberapa waktu yang lalu.
Sebenarnya Panjoel sudah tahu semenjak pertama sekali dia berniat untuk mendaftar di program ekstensi tersebut, tapi dia mencoba bertanya ke dekan dan dekan menyatakan bahwa dia ikut ujian aja dulu, ntar kalo lulus dan diterima baru kita atur lagi kedepannya. Namanya juga Panjoel, dia nekat aja ikut ujian, dan ternyata lulus, ada kesempatan dia langsung registrasi dan melengkapi semua persyaratan administrasi. Ternyata posisi aman, langsung dia KRS dan memulai kuliahnya. Dan sekarang, bukan masalah sih sebenarnya, lebih tepatnya adalah mengklarifikasi posisi saja.
Begitulah Panjoel, mahasiswa yang pernah kuliah selama 6 tahun di universitas yang sangat terkenal di Indonesia dan hanya mendapatkan gelar sarjana muda. Ironis memang, tapi di satu sisi dia berhasil mengotak-atik sistem administrasi universitas tersebut dan ternyata berhasil. Ceritanya pada waktu awal dia masuk kuliah, dia aktif hanya 1 tahun dan kemudian minggat selama 1,5 tahun disambung cuti 1 tahun jadi totalnya dia kuliah selama 2 semester kemudian 5 semester dia tak pernah kuliah. Menurut aturan yang berlaku ketika seorang mahasiswa yang pernah cuti tidak resmi dan ingin melanjutkan kuliahnya lagi dia harus membayar sebanyak berapa semester dia cuti tak resminya ditambah dengan uang kuliah semester yang baru. Kenyataannya si Panjoel ketika dia akan aktif kembali dia hanya membayar uang kuliah satu semester saja, jadi yang seharusnya dia membayar sebanyak 5,4 juta rupiah, dengan lobi dan mencari celah sedikit dia hanya membayar sejumlah 1,15 jt rupiah saja. Bukannya bermaksud bermain curang tapi dia mencoba dengan celah-celah yang ada dengan tertib dia ikuti dan akhirnya berhasil KTM pun keluar dan kuliah dimulai lagi.
“wealah…dosennya belum masuk toh Lis?” pertanyaan yang sudah biasa terlontarkan setiap masuk kelas
“belum njul, mungkin ruangannya pindah lagi”
“pindah kemana? Ke ruang konverens ya” tanyaku
“mungkin saja, coba aku sms silvia dulu, tanya ruangannya dimana ya” jawabnya sambil ngetik sms untuk memastikan
Pasti, hal seperti ini selalu terjadi di setiap hari-harinya pada saat kuliah. Secara kasat mata gedung yang khusus jurusan Ilmu Perpustakaan lagi dalam perbaikan, jadi jadwal kuliah yang seharusnya di ruang C201 akhirnya harus berpindah-pindah sesuai keinginan sang dosen.
“masuk kok Jul, di perpustakaan pusat, ruang conferences” akhirnya Lilis mendapatkan info yang akurat, “ya udah, kesana aja kita sekarang” ajakku sambil berjalan keluar kelas.
“ya…semoga niatku untuk menyelesaikan kuliahku sekarang dengan semangat ‘45 ku tidak putus di tengah jalan hanya gara-gara sebuah sistem yang berlaku”
“tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina, semoga hakekatnya benar-benar ada dalam kehidupan pendidikan di negaraku tercinta ini” dan pernyataan dari seorang Wakil Rektor salah satu Universitas termegah di pulau jawa yang menyatakan bahwa ketika anda menginginkan ilmu yang bermutu maka anda harus berani membayar mahal ilmu tersebut (maksud dia materiil), wah kalo benar seperti ini adanya berarti pepatah diatas diganti saja menjadi “bayarlah dulu sampai anda menjual jiwa dan raga baru ilmu akan aku impor dari cina”
“ya sudahlah aku hanya berharap yang namanya ilmu, sekolahan, kuliahan, buku tidak menjadi komoditas pasar yang menjadi lahan basah bagi terwujudnya cita-cita luhur para pengeruk harta karun”
“kok males masuk ya…Lis aku pulang aja ya, titip absen ya, makasi Lilis yang manis”
“huhhh…dasar Panjoel” dengan agak sewot dia meneruskan perjalanannya ke ruang kuliah yang saat ini berstatus nomaden.
Wassalam,
Wendy.darmawan
Obrolan sore
Wednesday, September 02, 2009
9:10 PM
“Rin, ini yang kau namakan dengan demokrasi? Setiap ada masalah selalu saja demon, nanti kalo mau dibubarkan sama aparat terus mereka malah melawan dan akhirnya dibubarkan secara paksa, nanti polisinya kena kasus HAM, cemana nya rin, apa pendapat kau, kan kau mahasiswa, kusekolahkan ke Jawa” terlihat seorang bapak yang lagi asik nonton berita sore bersama anaknya Rinto.
“cemana ya pak, kalo aku sih sebenarnya malas kali lihat yang kayak gini. Dulu tahun 98, kita sebagai mahasiswa berdemo untuk menyampaikan aspirasi memang benar-benar demo pak dan bapak lihat sendirilah hasilnya, kami berhasil menumbangkan rezim orde baru” jawab Rinto
“iya Rin, Tapi sekarang inilah, katanya reformasi, mana perubahannya? Masak yang berubah Cuma presidennya, kondisi rakyat juga secara keseluruhan ga ada yang berubah, masih sama kayak dulu. Malah kalo menurut aku lebih baik yang dulu daripada sekarang. Minimal kita merasa aman tinggal di Indonesia” sang bapak pun kembali bertanya
“gini lho pak, idealisme mahasiswa jaman sekarang berbeda dengan yang dulu, sekarang mereka lebih kepada idealisme pasar pak, kalo menurut aku demon itu sekarang sudah tidak murni seperti dulu, kita lihat sajalah pak, sekarang orang demon jarang yang nyampe 100 orang paling banyak 50 orang, malah terkadang lebih banyak wartawan yang meliput aksi daripada peserta aksinya. Banyak faktor yang mempengaruhi perubahan idealis tersebut salah satunya yang paling terlihat adalah mahasiswa yang bisa kuliah rata-rata anak-anaknya orang berduit pak, biaya sekolah mahalnya minta ampun sekarang. Selain itu keresahan yang dirasakan para mahasiswa sudah tidak sama seperti dulu, coba bapak bayangkan keresahan yang dialami orang yang berduit sama orang yang tidak berduit, kan lain pak” bapak pun terlihat serius mendengarkan si anak yang seperti berorasi
“nah para mahasiswa yang sekarang, keresahannya adalah takut ketinggalan jaman, artinya hari ini ada produk baru apa ya? Aku harus punya. Wah fashion terbaru apa ya? Masak aku ga beli, mak…dia udah punya blackberry ah.. masak aku masih nokia 3315. jadi seperti itu pak yang terjadi sekarang. Dan juga obrolan yang terjadi antar mahasiswa paling-paling curhat masalah percintaan, gosip kesana kemari, kalo ada yang memulai dengan tema-tema masalah sosial, politik, si-kon negara, mereka cenderung menghindar pak dengan alasan obrolannya terlalu berat” si rinto pun tampak serius menjelaskan pada bapaknya
“tapi rin, mahasiswa kan… apa itu istilahnya aku lupa, bentar…bentar…” si bapak mencoba mengingat-ingat
“nah… agent of changes kata orang-orang hebat itu rin” si bapak memancing lagi kayaknya tu
“agent of changes pak, ya itulah pak… peran tersebut masih di jalankan sama para mahasiswa sekarang pak, tapi yang dirubah sama mereka adalah pasar pak, bukan merencanakan perubahan untuk negara menjadi lebih baik. Biar bapak tau aja ya, biaya sekolah yang cukup mahal dan masa study yang dibatasi, menjadikan para mahasiswa yang sebenarnya punya potensi menuju agent of changes tersebut menjadi study oriented. Cemanalah pak, kalo telat lulusnya nanti di DO padahal uang udah keluar banyak, itu makanya banyak perguruan tinggi yang meluluskan sarjana-sarjana siap saji, alias instan dan mereka kalo dapat kerja isinya Cuma uang agar cepat kaya, kalo yang ga dapat-dapat kerja cenderung memilih jalan untuk putus asa, menyesali nasib tanpa mau bergerak alias jadi malas pak, dengan dalih aku bergelar S1 kok malah jadi buruh” jelas si Rinto kepada bapaknya
“ooo gitu ya, sekarang gini rin, aku mau tanya, menurutmu demokrasi itu apa rin? Terus batasan dari HAM itu dimana letaknya?” bapaknya kembali bertanya sambil menenggak segelas kopi kesukaannya.
“kalau menurut aku demokrasi itu adalah suatu paham yang menganut kebebasan untuk mengemukakan pendapat, konsep demokrasi kan dari kita, untuk kita dan kembali ke kita alias kedaulatan sepenuhnya berada di tangan rakyat. Jadi pak, ketika kita merasa ada sesuatu yang tidak cocok dihati dan itu mewakili orang banyak bukan individu atau golongan kita berhak untuk menyuarakannya, menyampaikannya kepada para wakil rakyat yang sudah dipilih oleh rakyat itu sendiri, dan si wakil rakyat harus mau mendengarkan aspirasi yang disampaikan untuk selanjutnya di tindak lanjuti ke tingkat yang selanjutnya, idealnya seperti itu. Kalo masalah HAM aku tidak begitu paham pak, soalnya menurut aku HAM atau hak azasi manusia itu adalah milik-NYA, dan ketika ada orang yang mengotak-atik tentang HAM berarti dia sudah memasuki ranah-NYA. Manusia hanya bisa membela HAM tanpa bisa memilah-milah hukumnya” Rinto terlihat semangat menjelaskan semua pertanyaan-pertanyaan bapaknya
“itu berarti para anggota DPR yang duduk di kursi-kursi berlapiskan kekuasaan berkat kita sebagai rakyat ya rin, coba kalo ga rakyatnya mereka kan ga dapat kerjaan” ungkap bapak dengan sedikit tersenyum yang menyimpan makna tak terbaca
“ya udahlah Rin, masalah ini semua kelak akan jadi tugasmu dan teman-temanmu untuk mamperbaiki dan menjadikan negara ini menjadi negara yang besar. Bukan hanya besar ngomong tapi juga besar di mata dunia dan disegani kayak jaman kakek kau dulu, ingat itu rin!” sambil menepuk bahuku dan beranjak dari duduknya dan tersenyum lagi “oya…ngomong-ngomong pintar juga anakku yang satu ini ya, walaupun hanya mengamati dari sudut pandang kenyataan tapi memang itulah kebenaran yang terlaku sekarang ini kan, ga sia-sia aku menyekolahkan kau sampai 6 tahun lamanya. Tapi kok masih bergelar sarjana muda ya, hahahahaha…” bapak pun meninggalkan rinto sendirian di depan tv
“eh…jangan gitulah pak, malah nyindir aku pula kau pak” Rinto terlihat bingung tak menentu melihat ulah bapaknya yang agak aneh menurutnya.
Wassalam,
Wendy.darmawan
Gundul
Friday, September 04, 2009
2:16 AM
“lagi ngapain kau Jo?”tanya seorang anak yang merasa sok dewasa kepada seorang pemuda yang benar-benar sudah dewasa
“wah, berani kali kau ya, berapa sih umur kau sekarang?” Bejo merasa direndahkan dengan pertanyaan anak tadi
“ngapain kau ke sini? Udah ga sekolah, merokok pula kau disini ya!!! Buang itu rokok kau Dul, kau pikir gampang nyari uang!” tambah berang Bejo dengan anak tadi yang bernama Anto dengan panggilan akrabnya Gundul, karena gaya rambutnya yang selalu gundul disetiap ada kesempatan untuk potong rambut
“hehe..ya jangan gitulah bang, akukan Cuma bercanda bang” sambil membuang rokoknya dengan wajah yang agak memucat karena melihat Bejo yang terlihat marah
“sini kau, ikut aku kedalam” ajak Bejo
“iya bang” sambil mengikutinya dari belakang
Di sebuah rumah yang berada di pinggiran kota Medan, tepatnya daerah Medan Johor masuk kedalam. Bejo seorang pemuda yang tidak lulus kuliahnya di tehnik mesin USU, ketika itu dia tersandung masalah ekonomi semenjak ditinggal bapaknya untuk selamanya karena truck yang di kemudikannya jatuh ke jurang di daerah Sumatra Barat. Bejo tinggal bersama ibu dan ketiga adiknya, dan semenjak bapaknya meninggal dia menjadi tulang punggung keluarga yang harus menghidupi ibunya dan membiayai adik-adiknya sekolah. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga dia membuka sebuah bengkel sepeda motor dan jual beli motor. Hasil yang didapat terbilang cukup untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga tapi tidak untuk hal-hal yang sifatnya pemborosan.
“sini kau, duduk dulu” Bejo menyuruh Gundul untuk duduk
“mau minum apa kau?” sambil melangkah menuju dapur
“ga usah bang, aku belum haus kok bang” Gundul ga berani untuk meminta
“alah, banyak kali alasan kau, masak kau ga haus, yang kau pikirnya aku ga tau kalo merokok itu bisa menimbulkan tenggorokan kering dan pengen minum Dul”
“nah, air putih aja ya” Bejo membawakan air putih untuk menjamu tamunya sambil menuangkannya ke dalam gelas kecil yang berwarna coklat tua
“kok ga sekolah kau, cabut kau ya?” tanya Bejo
“ngga bang, tadi sekolah pulang cepat, lagi ada kerja bakti” Gundul mencoba mencari alasan
Itulah Anto alias Gundul, seorang anak yang masih berusia 12 tahun dan masih duduk di bangku SMP di salah satu sekolah yayasan di daerah Medan Johor. Gundul yang terkenal sebagai tukang cabut sekolah itu berasal dari keluarga yang terbilang serba berkecukupan, tapi dikarenakan dia terjebak dalam dunia keglamoran anak-anak muda jaman sekarang yang mendewakan sesuatu yang disebut dengan “anti kemapanan” sehingga membawa dia ke tempat yang tidak jelas juntrungannya. Fenomena tentang kelompok masyarakat yang menghiasi kehidupan kita dengan slogan anti kemapanan tersebut tidak bisa kita jadikan devian dalam kehidupan ini. Konsep tentang anti kemapanan tersebut merupakan kritik sosial pada semakin dalamnya sebuah kesenjangan sosial yang terjadi saat ini. Idealisme pemberontak ini tidak selamanya salah dalam pandangan masyarakat awam, namun kita cenderung menganggap mereka sebagai sampah. Coba cari inti dari permasalahannya, yang sebenarnya tidak ada masalah dalam hal ini. Ketika kita tahu dan mengerti akan mimpi-mimpi mereka maka tidak bisa tidak kita akan berpikir dua kali untuk bisa mewujudkannya. Tidak sedikit dari mereka yang berasal dari keluarga yang mampu secara materi, namun ada faktor-faktor yang menjadikan mereka untuk turun ke jalan, mencari sebuah kehidupan yang bebas tak terikat dengan aturan-aturan yang ada. Broken home salah satunya. Ada pelajaran yang dapat kita ambil dari kehidupan mereka yaitu sebuah kebersamaan yang notabene untuk kehidupan bermasyarakat di Negara ini sudah semakin rentan, bahkan hampir punah. Walaupun di sisi lain ada hal-hal yang negatif yang juga mereka lakukan dalam kehidupannya.
“alasan kau ada aja Dul, dari dulu… yang kau bilang ga belajarlah, ada kerja bakti, gurunya ga datang, sampai kadang kau bilang nyasar, lupa jalan ke sekolah… Dul… Gundul… sini… bagi dulu rokok kau sebatang” pinta Bejo
“ini bang” sambil mengeluarkan sebungkus rokok yang biasa di konsumsi para muda-mudi bangsa ini
“eh, udah sampai mana perjalanan kau, yang sering kau bilang dengan anti kemapanan itu Dul?” tanya Bejo sambil membakar rokok pemberian Gundul
“apa kau masih di situ-situ aja, di simpang empat, bawa gitar kecil, nyanyi ga jelas dengan harapan mendapat imbalan dari pengendara mobil-mobil mewah itu, terus kalo ada yang berkenan kau ikut menumpang di bak belakang pick-up untuk pergi ke simpang yang lain, hah…?” Bejo melanjutkan pertanyaannya
“abang ini kenapa sih, selalu saja tanya masalah itu, biar tahu aja ya bang, itu idealisku bang, itu cara aku untuk memberontak sama kondisi Negara dan Pemerintah dan kroni-kroninya bang” Gundul memberanikan diri untuk mengelak dari pertanyaan Bejo
“aku tahu itu ndul, tapikan itu bukan cara yang pas Dul, kau juga butuh ilmu Dul, bukan terus idealis anti kemapanan kau salah gunakan dan kau jadikan alasan untuk hidup bebas, dengan seenaknya tanpa ada aksi yang berarti”
“sekarang niat kau ikut itu apa Dul? Kalo hanya ikut-ikutan biar terlihat paten dengan potongan-potongan ala gembel tapi otak kau juga buntu, sama aja Dul, mendingan kau maen sinetron aja dapat duit, ngetop bisa nampang lagi. Negara ini malah tambah kacau, dan kau ikut andil mengacaukan Negara ini kalau yang terjadi adalah paham ikut-ikutan, semuanya itu ada maksud dan tujuannya, aku percaya paham tersebut terbentuk untuk sesuatu yang lebih baik, walaupun aku ga tahu tentang itu secara utuh tapi setidaknya orang pertama yang menciptakan paham tersebut bukan orang bodoh kan, jangan sembarangan kau” tambah Bejo “dari situ apa yang sudah kau hasilkan? Bukan materi lho Dul, tapi karya…karya yang sudah kau ciptakan”
Terlihat gundul terdiam sejenak dan bejo menarik dalam rokoknya
“kok diam kau ndul?”
“aku bingung bang” terdengar pelan suara gundul
“apa yang kau bingungkan? Harusnya kau punya jawaban untuk itu Dul, tanggung jawablah, kalau kau bingung itu berarti kau hanya ikut-ikutan aja dan setengah-setengah idealis kau itu” Bejo mencoba untuk membuka Gundul untuk berdialog dengannya
terlihat seorang ibu yang baru masuk dengan membawa keranjang yang berisikan sayur dan bahan pokok untuk bertahan hidup
“eh Gundul, ga sekolah kau?” tanya ibu
“em..ada kerja bakti bu di sekolah, jadi aku malas ikut bu” jawabnya
“ya udah, yang penting jangan jadi kebiasaan aja ya, kasihan orang tua kau udah menyekolahkan kau pake biaya yang ga sedikit, tapi anaknya malah menyia-nyiakan kepercayaan yang telah diberi, nih ibu beliin makanan, biasa…bakwan kecil-kecilan” meletakkan sebuah bungkusan plastik berwarna biru yang berisikan makanan ringan alias jajanan pasar di atas meja
“Jo, ada orang tu di depan, kayaknya mau beli bensin” sambil berjalan menuju dapur untuk selanjutnya menyiapkan makanan untuk siang ini
“iya bu, bentar ya Dul…aku kedepan dulu, ada rejeki datang, dimakan tu bakwannya, jangan malu-malu kau” kata Bejo kepada Gundul
“iya bang”
Gundul terlihat bingung dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Bejo kepadanya, dia mencoa berpikir-pikir apa makna yang ingin disampaikan kepadanya siang ini sambil menyesali dirinya sendiri karena dia salah alamat. Niatnya sih Cuma ingin nongkrong di bengkel Bejo, tapi malah diceramahi.
“ah…kumakan ajalah ni bakwannya, daripada bingung sendirian aku” sambil tersenyum simpul menandakan dia sudah agak mengerti maksud dari abang Bejo.
“andaikan saja keluargaku bisa hidup seperti apa yang terjadi di rumah ini” Anto pun menghabiskan rokok terakhir yang disisakan buat si empunya.
Wassalam,
Wendy.darmawan
Taman
Friday, September 04, 2009
11:06 PM
Di sebuah taman yang indah sangat, terlihat seorang lelaki setengah baya yang sedang duduk di kursi kayu menikmati sore dan sebatang rokok. Itulah aku seorang lelaki yang mempunyai kenangan indah di taman itu. Seorang lelaki yang mencoba untuk menjadi lelaki, perjalanan hidup yang membawanya kembali ke taman itu menyisakan sebuah peristiwa yang hanya dapat dikenang.
“tidak terasa aku telah begitu lama meninggalkan kota ini, dan sekarang aku berada di sini untuk mengenang sejenak perjalananku dulu dan kemudian aku harus pergi lagi” sambil melihat-lihat sekeliling taman yang tidak pernah berubah dari dulu sampai saat ini
“maaf pak, boleh saya duduk disini” terdengar suara perempuan muda yang menghampiriku, meminta ijin untuk duduk di sebelahku
“eh..boleh-boleh silahkan, tapi maaf kalo rokok saya menggannggu anda” aku mempersilahkannya duduk sambil bergeser ke kiri sedikit memberi ruang lebih untuknya
“saya Arindra Faruni, tapi biasa dipanggil Runi, nama bapak siapa ya?” aku kaget mendengarnya, perkenalan yang tanpa basa-basi
“saya Weda Adyrwan, kamu panggil Weda saja…” sambil berjabat tangan kami berdua memperkenalkan diri
“berarti Runi panggilnya om Weda ya” mungkin biar terasa akrab, “ya terserah kamu saja Runi”
“oya, rumah om dimana?” Runi bertanya
“rumah saya jauh dari sini bahkan, harus menyeberang pulau dulu, tapi dulu saya pernah tinggal di daerah sini, kalo kamu sendiri?” jawabku sambil balik bertanya
“kalo Runi tinggalnya tidak jauh dari sini, hanya sekitar 5 menit jalan kaki udah nyampe kok om” sambil menunjukkan arah jalan menuju rumahnya
Tidak tahu kenapa, setelah itu percakapan kami terhenti. Kami saling menyibukkan diri masing-masing dan sesekali saling tersenyum.
Tak terasa udah hampir satu bungkus rokok aku habiskan sore itu
“om, kalo boleh tahu kedatangan om ke taman ini untuk apa ya?” dia kembali membuka obrolan
“saya…? saya kemari hanya ingin menikmati taman ini saja, udah lama sekali saya tidak maen kemari”
“Runi tahu om, pasti taman ini meninggallkan kisah klasik perjalanan hidup om toh?” dia mencoba untuk menebak dan aku hanya tersenyum mendengarnya
“kalo saya menceritakannya, ya klasik sih, dan juga terdengar sangat klise di mata orang, tapi itu sangat berbeda dengan rasa yang saya rasakan ketika saya mengingatnya. Orang terkadang hanya bisa menilai dari sisinya sebagai pendengar, dan saya sebagai pelaku yang merasakan dan melakukan peristiwa demi peristiwa dalam sejarah kehidupanku akan sangat berbeda”
“wah…ya, jangan pake emosi gitu dong om, Runi aja belum tahu ceritanya”
Aku tersenyum melihatnya “iya ya…” diapun ikut tersenyum
“ya, Runi sudah bisa menangkap cerita om tentang kenangan di taman ini kok. Dan memang benar sih om, akan sangat berbeda ketika kita berada sebagai pelaku dalam cerita daripada hanya sebagai pendengar” dia menambahkan pernyataanku barusan
“nah, kamu sendiri ngapain kemari?” aku balik bertanya
“lho gimana sih om, Runi kan orang asli kampung sini, rumah Runi aja dekat dengan taman ini, dan setiap sore Runi pasti kemari untuk menghabiskan senja om” jelasnya
“om, kalo om berkenan, kenangan apasih yang pernah terlaku di taman ini?” dia kembali bertanya
“hanya sebuah janji yang harus saya tepati, dan itu terucap di taman ini beberapa tahun yang lalu ketika saya diharuskan untuk kembali ke tanah kelahiran saya”
“ya pada waktu itu, saya dihadapkan pada sebuah pilihan yang tidak bisa saya tolak, walaupun sangat berat untukku tapi saya juga tidak ingin menyakiti hati orang-orang yang mengharapkan kehadiranku di negeri yang jauh disana, saya sangat berat untuk mengorbankannya, karena itu bukan pilihanku” Dia terdiam ketika itu
“dan ketika saya mulai menjalankan hari-hariku di sana, banyak kegundahan dalam hati yang bergejolak membuat keraguan itu timbul, saya tidak tahu apa yang terjadi, bahkan saya sendiri tidak mengerti dan paham atas keadaanku di sana waktu itu”
“hingga akhirnya saya merasa semua pengorbananku, perjuanganku seakan sia-sia, dan saya tidak tahu lagi apa yang harus saya lakukan, saya mentok ketika itu, saya merasa seakan-akan saya dikendalikan dengan egoku, obsesiku sendiri yang menjadikan tanya dalam hati mengapa saya berjuang untuk sesuatu yang sebenarnya tidak mau diperjuangkan, ibarat saya memberi makanan untuk seseorang tapi dia tidak mau dan tidak butuh makan dan ternyata dia tidak merasa lapar, ya…sehingga semuanya seakan semu di mataku, dan kemunafikanlah yang akhirnya terbawa dalam benakku, itu yang selalu menghantuiku”
“saya sering bertanya kepada diriku sendiri, mengapa semua ketulusan ini pada akhirnya terkesan meminta pamrih?”
“setelah itu semua bergulat dalam diriku, akhirnya saya memutuskan untuk menghentikan semua yang telah saya cita-citakan, mimpi-mimpiku saya hapus, dan semua yang menghantui ku saya buang jauh-jauh dari kehidupanku, hanya satu yang tetap saya pertahankan hingga saat ini, janjiku pada taman ini, janjiku untuk tetap setia pada taman ini dan tidak akan ada taman lain yang kurawat selain ini, sampai akhirnya saya harus meninggalkan dunia ini” aku mencoba mencurahkan semuanya pada sore itu, aku melihat perempuan yang duduk di sebelahku, dia menunduk seakan ikut merasakannya, terlihat air mata yang jatuh membasahi raut wajah yang begitu indah
“kenapa kamu menangis?” tanyaku melihat dia yang menunduk sambil mengusap air matanya
“ga papa om, Runi hanya teringat dengan hari-hari terakhir Runi disini” dia menjawab dengan pelan
“maksudnya?” aku menjadi bingung dengan pernyataannya, belum sempat aku mendapatkan jawaban darinya, mendadak seorang lelaki tua datang dan
“pak…pak…udah maghrib pak, saya memperhatikan dari jauh sepertinya bapak sedang ngobrol asik dengan seseorang” kontan, seketika itu aku kaget bukan kepalang melihat sekeliling dan lelaki tua itu.
Tanpa sadar aku ternyata berada di sebuah kompleks perkuburan dan aku duduk tepat di depan sebuah peraduan terakhir manusia, di nisan tersebut tertulis sebuah nama yang aku kenal barusan “Arindra Faruni”
“oh…iya…iya pak, waduh ada apa ini?” akupun pergi meninggalkan kompleks perkuburan tersebut sambil menyimpan tanya yang tak terjawab atas apa yang aku alami saat ini.
Cerita itu seakan tidak pernah bisa aku hilangkan dari hidupku. Senang, susah, marah, sedih perasaan bersalah dan lain sebagainya selalu aku rasakan ketika aku mengingat peristiwa itu. Dan dosa itu tidak akan pernah terabaikan begitu saja, tapi di balik semua itu aku menjadi mengerti akan sebuah makna yang dulunya selalu aku tentang habis-habisan. Belajar pada gurun tandus yang tak pernah lelah walau panas menemani hari-harinya, karena dibalik ketandusannya itu dia menyimpan sebuah oase yang akan memberikan semangat baru bagi musafir untuk melanjutkan perjalanannya. Ya semoga saja aku bisa menjadi oase di gurun tandus itu. Sudahlah, sepertinya aku diharuskan menutup rapat-rapat lembaran ini, dan tidak ada lembaran baru yang kubuka setelah ini.
Wassalam,
Wendy.darmawan
Ceritaku
Thursday, September 03, 2009
11:08 PM
Pernah ada sebuah kejadian, dimana ada seorang pemuda yang dilahirkan dan besar di sebuah kota besar di Negara ini yaitu Medan-Sumatra Utara. Ketika itu dia sedang menimba ilmu di pulau Jawa.
Suatu hari dia sedang ngobrol-ngobrol ringan dengan seorang wanita yang dia cintai, mungkin karena asik ngobrol akhirnya dalam sebuah kesempatan dia bertanya tentang sesuatu hal yang dianggapnya adalah sebuah persoalan karena dia mendapat undangan dari seorang teman dan dia kurang enak hati untuk menghadiri undangan tersebut dengan 1 atau 2 hal
“terus, kenapa rupanya kalau aku ga datang?” tanya pemuda tersebut
wanita tersebut menjawab dengan spontan “rupanya siapa mas?“ dan akhirnya mereka pun saling tersenyum.
Ada satu peristiwa ketika pemuda yang berasal dari Medan tersebut menghadiri sebuah rapat organisasi. Dia menjadi pimpinan rapat pada waktu itu, pambahasan demi pambahasan terjadi, agenda demi agenda dibicarakan, masalah demi masalah di rembuk pada waktu itu. Dan ketika tiba saatnya untuk menyatakan sikap yang nantinya akan dijadikan sebagai hasil dari rapat ketika itu, si pemuda tersebut ingin menekankan kembali
“jadi, untuk selanjutnya kita akan menyepakati hasil dari pertemuan kita malam ini, cemana?”
tanpa sadar salah seorang dari peserta rapat yang kebetulan dilahirkan di Madura menjawab
“cem-macem…” jawabnya,
kontan ketika itu pula suasana rapat yang tadinya tegang menjadi pada rileks semua mendengar percakapan terakhir tadi.
Mungkin ketika pemuda yang berasal dari Medan tersebut berada di salah satu pulau daerah Indonesia Timur, dan terjadi sebuah percakapan antar individu dimana suasana ketika itu sedang ada perbaikan instalasi listrik dari petugas PLN pada sebuah rumah, dan si pemilik rumah berkata kepada pemuda tersebut untuk mematika listriknya terlebih dahulu sebelum di perbaiki
“eh tolong kau bunuh dulu listriknya” dan kontan si pemuda yang dilahirkan di Medan tersebut takut karena dia menyangka bahwa dia disuruh membunuh petugas PLN tersebut.
Dan banyak lagi contoh-contoh yang menjadikan negara kita ini sangat kaya, ini baru masalah penggunaan Bahasa Persatuan kita dengan khasanah-khasanah dari masing-masing kota yang menjadi bagian dari NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia)
Inilah salah satu dari makna yang terkandung di sebuah pita yang cengkram kuat olah sang Garuda “Bhinneka Tunggal Ika”
Wassalam,
Wendy.darmawan
Pagi
Sunday, September 06, 2009
12:11 AM
Di satu sisi
Ketahuilah, tidak akan ku rebut rejekimu pagi ini
Aku tidak akan mengambilnya pagi ini
Carilah terus
Ambillah jatahku
Jangan kau sisakan buatku
Jangan kau lelah kawan
Begitu banyak yang disebar
Jangan biarkan monopoli rejeki terus terjadi
Jangan takut pada mereka
Ambil…ambillah…
Udah…
Ga usah kau hirukan muka-muka mereka
Mereka hanya tukang catat
Kau lihat sendiri
Catatan mereka hanya untuk laporan bulanan
Catatan mereka akan di catat lagi
Lagi…lagi…lagi…lagi dan lagi…
Oya…
Makanlah ini kawan
Ada sedikit yang aku bawakan
Ini rejekiku yang semalam
Habiskanlah…
Apa…?
Bukan…
Itu bukan fatwa
Itu hanya kelakar khas para pemimpi
Mereka juga tidak paham dengan fatwa
Eh…
Kelakarnya sendiri
Itu hanya omong kosong
Itu hanya topeng kayu yang suatu saat akan di makan api
Kenapa…?
Oh…
Itu hanya pengalihan masalah
Mereka itu pengecut yang sombong
Mereka itu tidak memahami masalah
Ini…?
Ini bukan solusi
Ini adalah masalah untuk menutupi masalah yang lain
Di sisi lain
Jelas…
Jelas tidak…mereka tidak ada sekarang
Kan udah di usir
Apa…?
Wow…itu bukanlah keberhasilan
Di-atasi-lah per-masalah-han-nya
Dihadapi masalah-masalah ini
Bukan malah dibuang begitu saja
Itu yang membuat mereka kembali lagi
Kalian sendiri kan yang mengkondisikan mereka untuk kembali
Dewasa dikitlah bung
Bijak dikitlah bung
Jangan hanya menginjak-injak dibalik ke-bijak-an
Atas nama keindahan…?
Atas nama ketertiban…?
Atas nama kepatutan…?
Atas nama kenyamanan…?
Dimana…?
Dimana nama keadilan…?
Dimana nama kemanusiaan…?
Junjung tinggi hak mereka
Hak yang terabaikan
Ya…
Gimana…
Apanya…
Oh…
Baca sendiri dong
Masak sudah pada pintar-pintar
Masih harus di-dikte lagi
Di beri arahan lagi
Tadi aku bilang kalian bodoh
Kalian tolol
Dan kalian MARAH!!!
Dan sekarang buktinya
Oh…
Begitu…
Berarti kalian tidak mau di bilang tolol
Berarti kalian akan bisa lebih menerima
Kalau dibilang ini
Semua adalah
Sebuah ketololan
Sebuah kebodohan
Dari kalian yang pintar-pintar ni ceritanya
Ya sudah kalo gitu
Terus…terusin aja
Kebijakan yang menutupi kebajikan ini
Niscaya anda…anda adalah orang-orang yang beruntung
Di antara kedua sisiku
Udah…
Aku mau tidur dulu
Awas kalau kalian ambil rejekiku ya
Karena
Hari ini rejekiku buat kalian bukan mereka
Dan ingat ya
Kalian tidak boleh malas
Dan hanya mengharapkan dari rejekiku
Wassalam
Wendy.darmawan
saat ini
tak ada hari yang tak bersemi
tak ada makna yang tak berarti
suratan tangan jatuh ke hati
memandang engkau yang kunanti
nanti
senja merambah peraduanku
aku terhenyak dalam kebisuanku
aku tersentak dalam kerinduanku
senja itu membawaku dalam penantian
hati anak adam
sebuah kisah akan bercerita
seuntai benang mulai terikat
secercah harapan yang dinanti
mengikat kasih di sanubari
jiwa yang melayang telah di bumi
raga yang hilang telah kembali
anak adam bersaksi
kepada rembulan yang menyinari hati
kisah berlanjut pada masa yang baru
buku ini mulai lusuh
tulisannya mulai luntur
anak adam tetap teguh
walau rembulan mulai redup
bintang datang membawa cerita baru
kisah kasih bergulir kembali
wahai anak adam
lihatlah ke depan
dengarlah sekelilingmu
belajarlah kebelakang
rasakanlah hari-harimu
jalanilah kewajibanmu
tanggung jawab telah menunggu
anak adam kembali kepada sang adam
rindu
kutuliskan sajak cinta buatmu
kupilihkan kata-kata terindah buatmu
kulukiskan pada kanvas terbaik buatmu
kuceritakan tentang manisnya senyummu
kurasakan kecupan mesramu
kupetik bunga tercantik untukmu
dan kuberikan hati ini hanya padamu
akankah kau yang pertama dan terakhir buatku?
doaku
mengiringi setiap hembusan nafasmu
mengiringi setiap langkahmu
mengiringi setiap harimu
menemani setiap arahmu
aku disini merindukanmu
dan yang mati
sejauh mana senja menenggelamkan sang surya
menaruh amarah yang tak kunjung padam
manambah duka di mata
anak cucunya
hati yang menyulut api
menjaga kesetiaan yang habis terbakar
menangislah diri atas nama yang utuh
manambah luka yang teredam oleh waktu
ketika badan mulai terusik oleh goresan tak bernyawa
dan hampa
lemas tak kunjung hilang
merambah kepasrahan pada sang pencipta
seutas tali semakin rapuh
segumpal harapan tidak lestari
separuh jaman menyentil mati
di tanah yang suci
dia terkubur untuk selanjutnya di curi
ooo…
mentari masih saja menari
berkilah bersilat lidah
mencari alibi yang akan bersih kembali
memampang muka yang paling suci
dihapannya para pemimpi
karena hatinya telah terkunci
dan yang mati
tetap sembunyi
semuanya pasti sirna
pesan ini akan kembali
tidak ada balasan yang tidak abadi
tidak ada balasan yang tidak diuji
mentari telah tenggelam
membawa pesan pada manusia
memberi waktu yang tak akan sirna
menghisap nadir kembali pada-Nya
wassalam,
wendy.darmawan
sekolah…sekolah…sekolah…
demikianlah yang sering terjadi dalam benakku dan mungkin dalam benak anda, pertanyaan-pertanyaan seputar produk-produk media umum yang dinikmati oleh masyarakat Indonesia saat ini.
proses kreatif tercipta untuk pertama sekalinya dan selanjutnya diikuti oleh proses-proses kreatif lainnya yang menghasilkan produk “serupa tapi tak sama”.
produk musik dan film anak bangsa yang bisa digolongkan produk elite menuju massa (kalo sinetron atau impotenment ga usah dibicarakan soalnya dia udah jadi produk massa atau lebih tepatnya “produk perusak massa”).
ketika kita membicarakan tentang hal diatas maka yang terbesit di dalam hati adalah “wah…ternyata kita bisa bikin sesuatu yang baru” dan kemudian sebuah pertanyaan besar kembali terbesit “lho…kok pada ngikut semua toh???”
untuk film layar lebar karya anak bangsa “Ada Apa Dengan Cinta” (wah…larisnya bukan main sampai ada sinetronnya lho…)
kemudian lahirlah film-film yang “serupa tapi tak sama”.
terus ada yang penggebrak dengan mengangkat tema “horor”, dan diikuti oleh horor-horor yang lain.
kemudian lahir lagi dengan tema “yang lebih menggebrak” dan jangan takut pasti ada pengikutnya kok kelak, lihat aja ntar…
kalo musik…
em…oya, banyak yang lahir dengan jalan instan alias masak karbitan.
banyak kritikan muncul mulai dari kurang menggigit sampai produk-poduk jiplakan, tapi anehnya mereka semua naik semua namanya walau tidak sedikit yang mengeluarkan produk limited edition alias sekali rekaman selanjutnya bubar.
dan sekarang hampir bulan ramadhan (lihatlah berapa banyak yang mengeluarkan album-album bertajuk religi) yang di gebrak pertama sekali oleh “gigi”.
dan masih banyak lagi contoh konkretnya.
demikianlah kondisi pasar kreatif kebanyakan anak negeri saat ini, tidak bisa kita pungkiri bahwa inilah kondisi kita di tengah arus pasar bebas dan kebutuhan akan sandang, pangan dan papan.
ini adalah salah satu dari enam atau lebih ciri Manusia Indonesia yaitu “artistik, berbakat seni dan lemah watak atau karakternya” menurut Mochtar Lubis.
nah selanjutnya Moctar Lubis menambahkan “selama … kita dengan segala ciri-cirinya tidak kita ubah secara sadar, maka tidak mungkin manusia Indonesia akan berubah dan berkembang menjadi manusia dengan pribadi dan watak yang utuh, dengan nilai-nilai dan sikap yang kita perlukan untuk menghadapi dunia sekarang ini, agar dapat menyelamatkan bangsa kita menjelang tahun 2000 dan seterusnya”
dan sekarang sudah tahun 2009 ternyata ciri manusia Indonesia belum ada yang berubah, dan hal ini pernah diulas pada salah satu surat kabar nasional dan diakhir ulasan tersebut dikatakan “kalo saja Moctar Lubis mendengar hal ini, dia akan menangis di dalam kuburnya”
tidak bisa kita pungkiri bahwa ciri-ciri tersebut masih Up to Date sampai sekarang dan ciri-ciri yang lain juga posisinya masih sama.
mengapa kita masih saja seperti ini, apakah ini yang namanya dengan “terpurukku disini” atau memang kita sudah berjalan tapi “jalan di tempat”.
bung…kita sebagai generasi muda Indonesia seharusnya resah melihat kondisi yang seperti ini, Moctar Lubis memberi ciri tersebut pada ceramahnya tanggal 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki - Jakarta dengan harapan pada tahun 2000 dst., terjadi sebuah perubahan yang nyata.
tapi kita juga tidak bisa menyalahkan siapa-siapa dalam hal ini, mungkin ini kodrat atau ini adalah sebuah proses menuju hal yang lebih baik.
alangkah baiknya kita mulai dari sekarang untuk lebih banyak mengintrospeksi diri, tapi berapa lama kita akan mengintrospeksi diri?
hanya tuhanlah yang tahu…
hihihihihihihi…
wassalam,
wendy.darmawan
“Jika kebudayaannya hancur maka hancur pula bangsanya. Bung Karno 1959”
Sudah jelas kan saudara-saudaraku sebangsa setanah air, bahwa kebudayaan bangsa ini sudah seperti telur di ujung tanduk, kalau tetap dibiarkan tidak di jaga dan diperhatikan maka dia akan jatuh dan pecah. Itu berarti Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini akan pecah, hancur berantakan, yang ujung-ujungnya kita akan kembali terpecah menjadi Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatra dan Jong – Jong yang lain. Memang benar sampai sekarang para pakar kebudayaan masih mengkonsep bentuk Kebudayaan Nasional Negara ini, tapi bukan berarti warisan budaya dari para leluhur bangsa ini tidak kita perhatikan kan?
Sungguh malang nasib bangsa ini, kebanggaan menjadi sebuah bangsa yang besar pupus sudah. Nasionalisme yang banyak di gembar-gemborkan saat ini hanya menjadi tong kosong yang berbunyi nyaring. Belum lagi masalah ekonomi bangsa yang semakin carut-marut datang lagi masalah yang lebih penting dari itu semua yaitu JATI DIRI BANGSA. Dimana sekarang dia berada? Konsep tentang jati diri sebuah bangsa udah banyak yeng bertebaran di Negara ini, teori-teori kebudayaan udah banyak yang dipelajari oleh anak bangsa ini, tapi hal yang sangat memalukan masih saja mencoreng muka kita. Kita terasa diinjak-injak oleh bangsa lain yang lebih kecil daripada kita “Malaysia”.
Memang tidak bisa kita pungkiri, ketika kita menilik sejarah mereka masih merupakan bagian dari ras yang juga mengalir di bangsa ini yaitu Melayu, tapi belum ada fakta sejarah yang menyatakan bahwa Kerajaan Melayu dahulu berada di tanah Malaysia. Kerajaan Kutai Kertanegara terletak di kepulauan Kalimantan, Sriwijaya berada di pulau Sumatra, Kerajaan Melayu terdapat di tanah Sumatra bahkan Kerajaan Siak juga adanya dipulau Sumatra, memang pernah Kerajaan Melayu pindah dari tanah Sumatra, tetapi meraka membangunnya di Singapura dengan nama Melayu Singapura. Apalagi yang menjadi masalah, kalau alasan tentang ras melayu, bukankah seluruh asia tenggara masuk menjadi ras melayu alias rumpun melayu?
Mengapa mereka berani mengatakan bahwa kebudayaan warisan bangsa kita ini adalah milik mereka? Ingatlah, Malaysia tidak mempunyai warisan budaya dari nenek moyang mereka sendiri, karena semuanya itu ada di tanah Sumatra, mulai dari Aceh, Medan, lebih-lebih Kepulauan Riau dst., tapi kenapa mereka hal itu bisa terjadi?
Siapa yang akan bersalah dalam masalah ini? Pemerintahkah, Sastrawankah, Budayawankah, Senimankah, Mediakah, Polisikah, Teroriskah, Ormas-ormaskah atau ini adalah KARMA? Tidak bisa bung, masalah ini sudah tidak akan bisa terselesaikan kalau masih saja mencari kambing hitam, kita semua yang merasa sebagai warga Negara Republik Indonesia, otomastis kita jugalah yang salah. Tidak mau disalahkan, pindah saja dari Negeri ini bung!!! Jangan jadi warga Indonesia, pergi saja jauh-jauh dari Negara ini dan jangan pernah kembali lagi!!! Tolong ya bung, ini adalah masalah bangsa yang sudah diobrak-abrik, dipermalukan dan bukan permasalahan korupsi, teroris atau kawin cerai para selopbritis.
Mari kita lihat kebelakang mengapa kita semua turut andil sehingga Warisan Budaya bangsa kita dengan mudahnya tanpa ada rasa bersalah di klaim sebagai milik mereka. Perlu diperhatikan mereka itu sudah mempelajari situasi dan kondisi Negara kita saat ini, secara tidak langsung mereka itu licik dan kita terlalu picik sebagai bangsa yang besar.
Sekarang coba kita lihat satu-persatu peran kita sebagai orang yang memiliki Negara ini, kata kuncinya adalah “Warisan = Harta Gono-Gini”
1. Pemerintah, DPR, MPR dan kawan-kawan.
mereka saat ini masih sibuk mengurusi yang namanya perekonomian, demokrasi dsb., yang semu membias entah kemana, mereka sudah tidak bisa diharapkan lagi untuk mengurusi warisan budaya bangsa ini “lihat saja menteri yang terkait malah sibuk dengan daftar-mendaftar warisan bangsa, terus selama ini apa yang diurusi oleh badan pemerintah yang mengurusi masalah budaya, pertanyaannya udah terdaftar belum? Kalo sudah kenapa ada pengeklaiman kembali? kalo belum, siapa yang punya andil dalam urusan ini, terus biaya pendaftarannya berapa?”. Biarkan mereka berebut kekuasan dan memperkaya diri sendiri, toh kelak yang namanya manusia pasti mati kok, jangan takut bahwan azab ALLAH lebih perih daripada azab para sipir penjara Cipinang atau Nusa Kambangan. Jangan anda “bapak-bapak yang terhormat” mengatakan bahwa ini semua bohong dan fitnah. Sudahlah tidak usah munafik, lihat aja kenyataannya, fakta yang terjadi di depan mata kita sekarang. Ingatlah lebih banyak masyarakat yang apatis alias rasa kepercayaan sudah hilang daripada yang masih kokoh dengan mendukung kalian bung. Asal tahu saja ya, DPR angkatan I tidak digaji dan mereka juga tidak korupsi, malah mereka benar-benar loyal mengurus dan membela bangsa ini, dan yang sekarang? Apa harus dibuka aibnya? Apa masih belum cukup contoh-contoh yang benar-benar nyata terjadi mulai dari dulu sampai sekarang tanpa ada perubahan yang berarti, yang bisa bangsa ini rasakan, bukti kongkretnya: Warisan Budaya Bangsa dengan mudahnya di klaim milik Malaysia, udah berapa banyak pulau-pulau di Indonesia yang hilang tanpa bekas. Hutan berubah menjadi perkebunan sawit, karet, KKO dsb. Sawah-sawah milik rakyat menjadi perumahan mewah, apartemen, mall, pabrik dengan alasan menambah devisa Negara. Benda cagar budaya banyak yang hilang ditelan bumi, bahkan ada yang menjadi hotel berbintang di Medan, Sumatra Utara dengan nama Hotel Aston tempatnya para tukang pijet Usbeskistan kata mantan pemimpin BI Medan Romeo Rizal menyikapi gedung Balai Kota menjadi ruang lobi hotel tersebut. Kekayaan alam juga ikut terkuras habis tak terasa dengan alih-alih menyerap investor yang akhirnya para investor tersebut menyerap ubun-ubun bangsa ini. Sudah jelas mereka pasti mendapat ijin dari pihak yang terkait dan siapa pihak yang terkait itu? Kalo bukan P********H dkk, Masih mau mengelak lagi bung!!! Apa kita anggap saja yang mengeluarkan ijin dari mantri sunat keliling, alias kalau ingin dapat ijin harus disunat dulu biar lancar. Apa yang akan terjadi apabila perekonomian bangsa ini maju pesat dan menjadi Negara yang serba kecukupan, tidak ada utang, kemiskinan sudah teratasi dan tidak ada lagi rakyat yang menganggur, tetapi bangsanya tidak berbudaya?
2. Orang-orang terpelajar, terdidik dan semua yang mempunyai titel berderet-deret dari disiplin ilmu masing-masingnya.
Tidak bisa kita pungkiri, bahwa rasa dilematis pasti ada yang menghinggap di diri mereka, terutama dari disiplin ilmu humaniora, mengapa? Orang-orang inilah bertugas sebagai penjaga alur cerita dari bangsa kita ini, orang-orang yang harus bisa mengingatkan para pemimpin bangsa kalo sudah mulai agak melenceng dari garis-garis yang telah ditetapkan. Celakanya tidak sedikit dari mereka yang juga menggunakan azas manfaat, aji mumpung dsb., bahkan kejar-mengejar proyek juga masih menjadi lahan basah bagi mereka. Ada juga yang terlalu lama bersekolah di Negara luar terus pada waktu pulang ke Negara asalnya (Indonesia) ealah.. kok malah jadi (awalan “ke” + negara tempat dia sekolah + akhiran “an”) misalnya: keinggris-iggrisan, keamerika-amerikaan, keprancis-prancisan dsb. Mereka ini mengerti masalah bangsa bahkan paham sepaham-pahamnya, beberapa bulan yang lalu saya nekat untuk ikut menjadi peserta pada acara Kongres Pancasila yang diselenggarakan di Balairung UGM oleh Mahkamah Konstitusi dan UGM. Wah, terus terang saya sangat kagum ketika pembahasan dimulai, betapa saya merasa bahwa bau kencur masih menjadi aroma parfum yang saya pakai ketika berhadapan dengan para pemikir-pemikir bangsa ini. Tetapi ketika wacana dilempar, masalah dibahas di forum tapi solusi yang dihasilkan juga hanya sebatas solusi-solusi yang bersifat normatif, tanpa ada solusi nyata untuk perubahan. Lho kok begini ujung-ujungnya?
3. Media.
Sebenarnya, media adalah tempat yang strategis dan mempunyai peran penting untuk masalah kita saat ini, tapi apa yang terjadi? Mereka lebih asik mengangkat kasus-kasus kawin cerai para artis, kriminal, sinetron, teroris dsb., tapi tidak bisa kita salahkan juga wong kodrat manusia butuh makan, selain itu masih harus menggaji para wartawan, dan butuh biaya pemeliharaan barang-barang inventaris dsb., namun ketika kita menilik fungsi pokok dari media baik itu yang bersifat massa ataupun elite, saya rasa sama saja kok tidak ada yang berubah kalau kita melihat undang-undang penyiaran dan pemberitaan yaitu: memberikan informasi, pendidikan, hiburan dan manfaat untuk pembentukan intelektualitas, watak, moral, kemajuan, kekuatan bangsa, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mengamalkan nilai-nilai budaya Indonesia dan agama. Apa masih belum cukup? Tapi kenyataan yang ada, apa? Intensitas menyiarkan sinetron dan impotenment lebih dari-dari-dari cukup untuk merusak moral bangsa, bahkan acara yang mengiklankan beberapa apartemen, mall yang mewah dan megah karya agug sedayu group di salah satu stasius tv swasta terasa jor-joran. Apa kata saudara-saudara kita yang untuk makan saja mereka masih susah? Apa acara tersebut bisa memacu semangat mereka biar tidak putus asa dalam hidupnya agar kuat membeli salah satu bilik apartemen yang ditawarkan? Bung, sudahlah jangan membuat kesenjangan ini semakin tak ada ujungnya. Tapi kan ada juga yang isinya berita dan informasi sepanjang hari bung? Iya, memang benar, tapi isi beritanya juga tidak begitu menarik, mengapa? terkadang terkesan terlalu hiperbolis dan terlalu didramatisir isi pemberitaannya apalagi kalo misalnya ada kasus besar yang lagi ngangkat namanya, contohnya penggerebekan teroris kemarin, saya sendiri sampai muak melihatnya. Satu lagi yang saya baru sadar setelah membaca bukunya Alif Danya Munsyi, bahwa ternyata pada stasiun-stasiun tv di Negara kita banyak yang tidak menggunakan bahasa Indonesia dan lebih memilih menggunakan Bahasa Inggris untuk tajuk-tajuk acara yang ditawarkan. Mungkin mereka malu apabila menggunakan Bahasa Indonesia? Atau biar terlihat keren, terpelajar dan motif-motif yang menjijikkan lainnya. Dalam hati saya bertanya, kenapa sampai hal ini bisa terjadi pada sebuah institusi yang mempunyai peranan sangat-sangat krusial dalam sebuah Negara? Ingatlah undang-undang dan fungsi anda sebagai MEDIA. Bagaimana kita bisa bangga dengan bangsa ini kalo kita sendiri saja tidak bangga dengan bahasa bangsa sendiri. Ingatlah kawan, Televisi itu lebih berpengaruh daripada surat kabar, majalah, radio dll., mengapa? karena media massa ini (tv) tidak hanya menyerang indra pendengaran tapi juga indra penglihatan juga ikut main dalam menikmati seluruh acara setiap harinya, kalau yang lain hanya terbatas pada salah satu indra saja. Surat kabar atau majalah, kita masih harus membaca (kalau tidak malas). Radio, kita masih harus mendengar dengan seksama (dan sekarang lebih banyak menyiarkan lagu-lagu daripada informasi). Tetapi kalau televisi, kita hanya duduk, diam di depan tv, habis perkara, semuanya dengan cepat masuk. Itu makanya dulu ada kasus anak-anak yang smack down di rumah sampai makan korban, orang-orang yang frustasi terus mencari menara sutet dan banyak lagi kasus yang secara tidak langsung terpengaruh oleh media pertelevisian tanah air. Nah permasalahnnya, tingkat pemberitaan dan pelestarian mengenai warisan budaya bangsa ini sangat-sangat minim sekali ditayangkan, kalaupun ada paling-paling hanya ½ jam siarannya itupun masih dipotong iklan sak bajeg kere. Walaupun ada salah satu stasiun tv swasta yang menggelar sebuah acara yang mengarah kepada salah satu warisan budaya yaitu “Opera van Java” tapi lagi-lagi menggunakaan kata JAVA yang notabene artinya Jawa, terus bagaimana dengan Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTT, NTB, Irian Jaya dan pulau-pulau yang lain?
Ada juga kaum di Negara ini yang membuat hukum karma tersebut jatuh pada bangsa kita, antara lain:
a. Para pembajak karya seseorang akhirnya warisan kita dibajak Negara lain.
b. Para musisi yang merasa cipta karyanya njiplak karya orang lain (kalau mau jujur).
c. Orang-orang yang tinggal di Jakata, Bandung dan sekitarnya yang tidak mengakui bahwa dia berada di pulau Jawa, dan menurut mereka Jawa itu dimulai dari Jawa Tengah sampai Jawa Timur. Mengapa? lihat saja angklung diklaim milik Malaysia.
d. Orang-orang yang menjual bangsa ini, wong kekayaan alam dan kepulauan kita aja dijual kok (itu yang kasat mata) nah warisan budaya tidak kasat mata (ya dengan gampangnya pindah ke Negara lain).
e. Dan saya sendiri sebagai warga Negara Republik Indonesia, mengapa? Saya tidak bisa menjaga warisan para leluhur bangsa ini yang diberikan kepada saya untuk dijaga sebaik-baiknya jangan sampai jatuh ke tangan orang lain.
Pertanyaannya:
1. Bagaimana kalau Malaysia kita angkat sebagai saudara dan kita jadikan mereka sebagai anggota keluarga? Jadi Indonesia adalah saudara tua Malaysia, seperti yang diajarkan Jepang atas Indonesia 64 tahun yang lalu, sehingga untuk pembagian harta warisan bisa kita daftarkan ke notaris setempat, dan tidak ada saling rebut.
2. Jangan-jangan hal ini terjadi karena Negara terlalu banyak mengekspor tenaga kerja baik yang sah ataupun selundupan ke Malaysia, mereka akhirnya beranak-pinak disana dan tentu saja, mereka juga berhak atas warisan budaya leluhur bangsa Indonesia. Wong mereka (anak-anak keturunan para TKI) juga berdarah Indonesia kan? (secara tidak langsung).
Solusinya:
Bersifat normatif:
1. Introspeksi diri yang mengarah kepada introspeksi kebangsaan.
2. Banyak-banyak berdoa semoga Malaysia di beri ampunan karena telah mencuri warisan kita.
3. Merubah watak dan moral masing-masing individu dan berjanji tidak berbuat kesalahan lagi.
4. Jangan lagi-lagi melanggar aturan.
5. Sayangilah, cintailah, dan jaga baik-baik warisan budaya bangsa ini.
6. Jangan membenci Malaysia, toh dia juga masih tetangga kita, maafkanlah kekhilafannya.
Langkah nyata:
1. Stop mengekspor tenaga kerja ke Malaysia, dan tarik semua tenaga kerja Indonesia tersebut pulang ke negaranya (berarti ntar akan menambah pengangguran ni ceritanya).
2. Pulangkan Manohara ke suaminya, dan biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri (wong masalah keluarga kok dikait-kaitkan sama bangsa ini).
3. Tutup perusahaan-perusahaan milik Malaysia di Indonesia misalnya petronas dan proton dsb.
4. Nasionalisasikan perkebunan-perkebunan milik orang Malaysia yang berada di Indonesia.
5. Putuskan jalur diplomasi kita ke Negara tersebut.
6. Jangan beri jalan untuk bisa masuk ke Negara kita.
7. Perang!!!
(untuk solusi nyata ini perlu diingat satu pertanyaan, apa kita sudah berani? Tapi yang jelas orang berani akan kalah sama orang yang nekat)
Sudah cukuplah kita dipermalukan bung, bahkan sampai teroris milik Malaysia pun, kita impor ke Indonesia. Bangsa ini sedang membangun tetapi janganlah kita melupakan hal-hal mendasar terbentuknya sebuah bangsa itu sendiri. Indonesia adalah bangsa yang Besar!!! Bukan bangsa yang besar kemaluannya. Marilah kita sebagai warga Negara Republik Indonesia menjaga nilai-nilai luhur bangsa ini, warisan budaya dari para leluhur bangsa ini bersama-sama. Ingatlah warna bendera kita, pahamilah dasar Negara ini. Kita boleh menerima budaya-budaya dari bangsa lain karena kebudayaan juga bersifat dinamis tapi alangkah baiknya kalo kita tetap pada budaya kita sendiri mulai dari bahasa sampai moral dan kearifan bangsa, karena itu akan menjadikan bangsa ini mempunyai harkat dan martabat di mata bangsa-bangsa lain.
Hilangkanlah rasa apatis kita pada para pemimpin bangsa mulai dari sekarang, karena kita butuh perubahan. Buat para pemimpin kami yang tercinta “sudahlah, kami sudah capek melihat kelakuan kalian yang tidak bisa dirubah sedikitpun, apa kalian tidak malu dengan banyaknya masyarakat yang sudah tidak percaya dengan kredibilitas kalian sebagai pemimpin, mau sampai kapan kita seperti ini terus. Memang benar permasalahan ini semakih hari semakin ruwet, ibarat benang yang panjangnya ribuan kilometer, kusut membentiuk sebuah bola yang kusut juga. Kalo sudah tidak bisa lagi diluruskan bola tersebut ke bentuk aslinya yaitu benang yang lurus tanpa ada sambungan, berarti jalan satu-satunya harus dibakar sampai menjadi abu, kita bikin benang baru dan di jaga jangan sampai kusut kembali. Ingatlah anak cucu bangsa ini”.
“Aku bangga dilahirkan sebagai anak bangsa Indonesia”
“Reformasi bukan berarti Revolusi”, “ketika Reformasi tidak juga membawa perubahan yang berarti, itu tandanya tidak ada jalan lain selain Revolusi, MAU!!!”
Wassalam,
Wendy.darmawan
Sekolah-sekolah-sekolah…
64 tahun sudah kita merdeka, memang pembangunan di segala bidang sangat maju (kelihatannya) tapi pembangunan jiwa, rasa dan mental kebangsaan, nasionalisme, patriotisme kita “entah” seperti apa (yang jelas mengalami kemunduran) “wong kemaren aja sidang paripurna lupa menyanyikan lagu Indonesia Raya…hihihihihi… piye kui? mungkin kelak Indonesia Raya jadi NSP”
Ideology bangsa yang luntur seiring masuknya era informasi, globalisasi dsb itu menjadikan kita bangsa yang lemah.
Angkatan bersenjata kita yang konon kabarnya pernah menjadi angkatan yang di segani di asia tenggara, sekarang di pandang sebelah mata.
Terlepas dari siapa yang salah, siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas masalah ini, dan siapa dalang di balik semua ini, yang jelas kita sudah memasuki masa “KRITIS”.
Untungnya bendera Merah Putih tidak berubah Menjadi bendera partai, ormas dsb, dia masih berwarna merah, dia masih berwarna putih walaupun sekarang udah tampak usang karena tak terawat.
Pahlawan nasional hanya menjadi pajangan di dinding-dinding sekolah (kalo masih ada).
Garuda Pancasila juga dipajang di setiap instansi-instansi pemerintah atau pun swasta, untungnya Garuda Pancasila tidak dijual ke investor-investor berkantung tebal dan banyak utang.
Tapi lambang negara kita itu sekarang “ibarat burung dalam sangkar”, karena dia hanya menjadi pelengkap diantara presiden dan wakil presiden, mungkin kelak muncul pernyataan “jangan ada GARUDA PANCASILA diantara kita sayang…”
Apa jadinya anak cucu kita kelak?
tidak tahu siapa yang mendirikan negara ini,
tidak tau ideology bangsa ini,
mengapa ada “Bhineka Tunggal Ika” di kaki sang Garuda.
apa pentingnya dasar negara,
pembukaan UUD 45, batang tubuh dan penjelasan UUD 45 (ralat… sudah ga pake penjelasan karena memang sudah jelas-sejelas-jelasnya kok) itu apa,
terus di suruh bayar utang lagi!!!
wah gawat ni bung!!!
tapi aku masih bangga karena aku sekolah di Indonesia, kalo aku sekolah di Amerika, Inggris, Perancis dsb, aku pulang ke Indonesia pasti aku akan keAmerika-amerikaan, keInggris-inggrisan, kePerancis-perancisan pokoknya awalan “ke”+nama negara asal sekolah+akhiran “an”
ya sudahlah, memang bener kata orang bijak “mari kita cintai bangsa ini, karena hanya cinta yang bisa memaklumi situasi kondisi bangsa kita”
NASIONALISME, PATRIOTISME, dan IDEOLOGY bangsa harus kita pertahankan mulai sekarang, jangan biarkan GARUDA PANCASILA hanya menjadi pajangan (dia bukan burung perkutut)
ok bro…
kalo tidak dari sekarang, kapan lagi kita bisa melihat Indonesia ini menjadi bangsa yang besar dan disegani oleh Dunia…
MERDEKA!!!
kegelisahan dalam benakku ketika gambar-gambar itu tersenyum manis
menarik hati setiap orang yang melihat
aku yang dirudung kain merah di balut sehelai kain putih mencari celah dibalik jeruji tak bertepi
hari-hariku yang datang membawa ujung yang terkoyak oleh senyumannya
hai…
rentan kita bersenandung
bersyair tempo dulu
melantunkan lagu-lagu klasik yang dibalut senyum penuh ambisi mereka
tidak akan merdu terdengar itu semua
hai…
apa yang kamu lihat sekarang?
kenapa hanya senyum yang kau lebarkan
ribuan kawan menunggu kau bergerak
ribuan kawan menunggu kau bertindak
ribuan kawan menunggu kau menangis
jari yang tercoret atas dasar fatwa yang mengerikan
menanggung semua beban yang kelak akan berimbas pada jiwa yang kosong
itulah kenapa kematianku kemaren jatuh pada senyuman yang kelak menjadi murung
bukan maksud terlaku murung
tapi garis tak akan lurus
kawan…
mari kita rajut kembali
menyatukan serpihan masa
menjadi masa yang indah
KAPAN???
mata
hari ketika mata ini terbuka
tangisanlah yang terlihat
hari ketika mata ini terbuka
senyuman bangga akan kelamin terpancar dari balik kelopaknya
hari ketika mata ini terbuka
berjuta harapan terlihat di depannya
hari ketika mata ini terbuka
hari ketika mata ini terbuka
hari ketika mata ini terbuka
tersadar ketika mata batin tersentuh
tetesan air
berlinang di pangkuannya
ketika hari beranjak senja
mata yang tertutup oleh dedaunan kering
membakar habis berjuta ranting yang patah
aku yang berdiri dengan kebutaanku
melangkah maju menyusuri kegelapan
menerjang ombak yang suram
memakan semua yang terinjak
menikam arah
membalikkan tujuan
dan malam…
menghilang dari balik kesenduannya
tersentak ketika mata batin terbuka
tetesan air
berlinang di pangkuannya
ketika bisikan lirih air
“pulanglah nak, kami merindukanmu, jangan kau tinggalkan kami lagi”
aku terbangun
mata batinku menuntun mata hati untuk kembali padanya…
hari ketika mata ini kelak tertutup
tangisanlah yang akan kudengar
wassalam,
wendy.darmawan
harapan
kamu terkurung
terantai tanpa diadili
kesadaran adalah harapanmu
kesabaran adalah kamu
keberanian senantiasa di benakmu
kebenaran masih jauh dari harapan
harapan
kamu terkurung
terantai tanpa diadili
pangeran dalam keretanya
terkekang
terhimpit
tersungkur
dalam nama besarnya
harapan
kamu terkurung
terantai tanpa diadili
terpampang gambar di pinggir jalan
bersih
bijak kata-katanya
pesan-pesan penuh arti
wajah yang memukau memikat hati
mata yang terselip segarit
bayang-bayang semu
apa dan siapa?
harapan
kamu terkurung
terantai tanpa diadili
simpanlah dirimu dalam telaga air mata
simpanlah cita dalam malam
simpanlah hati dalam pancarannya
harapan
kamu terkurung
terantai tanpa diadili
tanpa tahu apa kelak akan sirna
benar kata orang
ketika kita lapar… ya makan,
ketika kita ngantuk… ya tidur,
ketika kita capek… ya istirahat,
tapi banyak juga yang mempertanyakan
kenapa kita lapar
kenapa kita ngantuk
kenapa kita capek
dan tidak sedikit yang memprotes
pada rasa lapar
pada rasa ngantuk
pada rasa capek
dan sekarang berkembang sebuah wacana
untuk apa kita lapar
untuk apa kita ngantuk
untuk apa kita capek
yang harus kita pahami
ngerti ga’ kalo sekarang kita lapar
ngerti ga’ kalo sekarang kita ngantuk
ngerti ga’ kalo sekarang kita capek
nah to…
kenapa kita tersenyum dan tertawa membaca note ini?
wassalam,
Wendy Darmawan
pagi yang diselimunti kabut
sepeda janda berderet parkir berebut lapak di sebuah pasar
kupluk putih berjalan ke arah barat
mata merah dan segaris mencari tempat merebahkan penat
susu ibu dinanti sang kecil
diapun beranjak, kabut perlahan pergi meninggalkannya
riuh pasar menghidupkan suasana
eh…
anak itu berlari mengejar cita-cita
bu..
ibu menggiring mereka dengan daster-daster lusuhnya
dan
terlihat betapa gagahnya orang ini
dengan garang dia berkata
“ma..papa berangkat kerja dulu ya”
sambil mencium kening sang mama tercinta
ketika ubun-ubun terasa panas
riuh pasar mulai tenggelam
berjuta orang berteduh di dinginnya ac mall
mengharap dialah orang yang “paling” diantara banyaknya orang yang berpikiran sama
raut wajah itu melihatkan keangkuhan yang ada
mata-mata ini menjadi liar
dan kantungpun tebal
ow…ternyata panas pada ubun-ubun mulai mereda
pasar kembali berkumandang
dinginnya mall memanggil lebih banyak materi yang datang
hahahahaha…
ada juga yang bermain catur sambil menikmati secangkir kopi pahit wak soleh
dan tidak sedikit yang mencicipi cappuccino dengan taburan chocolate granules sedikit buih menumpuk menambah nikmatnya aroma obrolan ini dan itu
senja hadir
nuansa merah memperlihatkan decak kagum sang penyair
siluet-siluet manis menghiasi lembaran-lembaran memori kelak
sepeda itu mulai menghilang
kupluk putih berjalan kembali ke barat
cita-cita mereka dipendam untuk besok
mata yang tadinya merah segaris menjadi putih bersih dengan misi baru
ribuan kepala silih berganti memasuki bilik-bilik penawaran yang indah nian dilihat
sang pangeran datang membawa pesan
dan sekarang kegelapan menyelimuti hari
orang-orang tadi kembali ke peraduannya
bersama menghadap ke barat
merebahkan badan
memejamkan mata
memimpikan esok hari
gelapnya hari membawa kita pada kesamaan
menyatakan betapa lemahnya kita dihadapan sang pencipta
DIA tersenyum manis
insan manusia tidak lebih dari tumpukan ikan asin yang siap di pasarkan keesokan harinya
tidak ada yang lebih mulia ini hari ketika kita lupa siapa kita sebenarnya…
wassalam,
wendy.darmawan
sesuatu yang terindah yang hadir dalam hidup
akankah diambil kembali oleh kehidupan ini?
wajah ini akan mengeriput
seiring dunia yang semakin ujur
mata ini tidak menyentuh batin yang melenggang diatas dunia
pikiran melayang terbawa kesemuan
hati yang bebal akan rasa tak terjamah
kekuatan akan memudar
kaki semakin melenggang tak tahu malu
ribuan mata tertuju pada satu titik
“kematian”
aku, aku, aku, aku, aku, aku, aku dan aku
ketika aku berjalan menyusuri padang pasir
ketika aku mendaki ke puncak tertinggi
ketika aku menyelam ke dasar samudra
ketika itu pula aku sadar bahwa aku tidak lebih besar dari seekor semut
namun….
ketika aku manapakkan kakiku di antara padatnya manusia
ketika itu pula kemunafikanku, keangkuhanku, kenaifanku, kesombonganku
mengikuti arah kaki manapak
anjing!!!!!!!!!!!!!!!!
kenapa aku selalu sadar ketika aku terhimpit
kenapa aku selalu sadar ketika kesunyian menyelimutiku
kenapa aku selalu sadar ketika desakan-desakan waktu menghampiriku
apakah ini kodrataku tidak lebih baik daripada ANJING!!!!!!!!!!!!!!!!!!
hari ini…
ketika ada yang terjebak di antara semak-semak bambu ini
ketika itu pula kita adalah saudara
selamat datang!!!
apa kabar saudara?
sampaikan salamku buat semua penghuni bumi…