harapan
kamu terkurung
terantai tanpa diadili
kesadaran adalah harapanmu
kesabaran adalah kamu
keberanian senantiasa di benakmu
kebenaran masih jauh dari harapan
harapan
kamu terkurung
terantai tanpa diadili
pangeran dalam keretanya
terkekang
terhimpit
tersungkur
dalam nama besarnya
harapan
kamu terkurung
terantai tanpa diadili
terpampang gambar di pinggir jalan
bersih
bijak kata-katanya
pesan-pesan penuh arti
wajah yang memukau memikat hati
mata yang terselip segarit
bayang-bayang semu
apa dan siapa?
harapan
kamu terkurung
terantai tanpa diadili
simpanlah dirimu dalam telaga air mata
simpanlah cita dalam malam
simpanlah hati dalam pancarannya
harapan
kamu terkurung
terantai tanpa diadili
tanpa tahu apa kelak akan sirna
benar kata orang
ketika kita lapar… ya makan,
ketika kita ngantuk… ya tidur,
ketika kita capek… ya istirahat,
tapi banyak juga yang mempertanyakan
kenapa kita lapar
kenapa kita ngantuk
kenapa kita capek
dan tidak sedikit yang memprotes
pada rasa lapar
pada rasa ngantuk
pada rasa capek
dan sekarang berkembang sebuah wacana
untuk apa kita lapar
untuk apa kita ngantuk
untuk apa kita capek
yang harus kita pahami
ngerti ga’ kalo sekarang kita lapar
ngerti ga’ kalo sekarang kita ngantuk
ngerti ga’ kalo sekarang kita capek
nah to…
kenapa kita tersenyum dan tertawa membaca note ini?
wassalam,
Wendy Darmawan
pagi yang diselimunti kabut
sepeda janda berderet parkir berebut lapak di sebuah pasar
kupluk putih berjalan ke arah barat
mata merah dan segaris mencari tempat merebahkan penat
susu ibu dinanti sang kecil
diapun beranjak, kabut perlahan pergi meninggalkannya
riuh pasar menghidupkan suasana
eh…
anak itu berlari mengejar cita-cita
bu..
ibu menggiring mereka dengan daster-daster lusuhnya
dan
terlihat betapa gagahnya orang ini
dengan garang dia berkata
“ma..papa berangkat kerja dulu ya”
sambil mencium kening sang mama tercinta
ketika ubun-ubun terasa panas
riuh pasar mulai tenggelam
berjuta orang berteduh di dinginnya ac mall
mengharap dialah orang yang “paling” diantara banyaknya orang yang berpikiran sama
raut wajah itu melihatkan keangkuhan yang ada
mata-mata ini menjadi liar
dan kantungpun tebal
ow…ternyata panas pada ubun-ubun mulai mereda
pasar kembali berkumandang
dinginnya mall memanggil lebih banyak materi yang datang
hahahahaha…
ada juga yang bermain catur sambil menikmati secangkir kopi pahit wak soleh
dan tidak sedikit yang mencicipi cappuccino dengan taburan chocolate granules sedikit buih menumpuk menambah nikmatnya aroma obrolan ini dan itu
senja hadir
nuansa merah memperlihatkan decak kagum sang penyair
siluet-siluet manis menghiasi lembaran-lembaran memori kelak
sepeda itu mulai menghilang
kupluk putih berjalan kembali ke barat
cita-cita mereka dipendam untuk besok
mata yang tadinya merah segaris menjadi putih bersih dengan misi baru
ribuan kepala silih berganti memasuki bilik-bilik penawaran yang indah nian dilihat
sang pangeran datang membawa pesan
dan sekarang kegelapan menyelimuti hari
orang-orang tadi kembali ke peraduannya
bersama menghadap ke barat
merebahkan badan
memejamkan mata
memimpikan esok hari
gelapnya hari membawa kita pada kesamaan
menyatakan betapa lemahnya kita dihadapan sang pencipta
DIA tersenyum manis
insan manusia tidak lebih dari tumpukan ikan asin yang siap di pasarkan keesokan harinya
tidak ada yang lebih mulia ini hari ketika kita lupa siapa kita sebenarnya…
wassalam,
wendy.darmawan