“Jika kebudayaannya hancur maka hancur pula bangsanya. Bung Karno 1959”
Sudah jelas kan saudara-saudaraku sebangsa setanah air, bahwa kebudayaan bangsa ini sudah seperti telur di ujung tanduk, kalau tetap dibiarkan tidak di jaga dan diperhatikan maka dia akan jatuh dan pecah. Itu berarti Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini akan pecah, hancur berantakan, yang ujung-ujungnya kita akan kembali terpecah menjadi Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatra dan Jong – Jong yang lain. Memang benar sampai sekarang para pakar kebudayaan masih mengkonsep bentuk Kebudayaan Nasional Negara ini, tapi bukan berarti warisan budaya dari para leluhur bangsa ini tidak kita perhatikan kan?
Sungguh malang nasib bangsa ini, kebanggaan menjadi sebuah bangsa yang besar pupus sudah. Nasionalisme yang banyak di gembar-gemborkan saat ini hanya menjadi tong kosong yang berbunyi nyaring. Belum lagi masalah ekonomi bangsa yang semakin carut-marut datang lagi masalah yang lebih penting dari itu semua yaitu JATI DIRI BANGSA. Dimana sekarang dia berada? Konsep tentang jati diri sebuah bangsa udah banyak yeng bertebaran di Negara ini, teori-teori kebudayaan udah banyak yang dipelajari oleh anak bangsa ini, tapi hal yang sangat memalukan masih saja mencoreng muka kita. Kita terasa diinjak-injak oleh bangsa lain yang lebih kecil daripada kita “Malaysia”.
Memang tidak bisa kita pungkiri, ketika kita menilik sejarah mereka masih merupakan bagian dari ras yang juga mengalir di bangsa ini yaitu Melayu, tapi belum ada fakta sejarah yang menyatakan bahwa Kerajaan Melayu dahulu berada di tanah Malaysia. Kerajaan Kutai Kertanegara terletak di kepulauan Kalimantan, Sriwijaya berada di pulau Sumatra, Kerajaan Melayu terdapat di tanah Sumatra bahkan Kerajaan Siak juga adanya dipulau Sumatra, memang pernah Kerajaan Melayu pindah dari tanah Sumatra, tetapi meraka membangunnya di Singapura dengan nama Melayu Singapura. Apalagi yang menjadi masalah, kalau alasan tentang ras melayu, bukankah seluruh asia tenggara masuk menjadi ras melayu alias rumpun melayu?
Mengapa mereka berani mengatakan bahwa kebudayaan warisan bangsa kita ini adalah milik mereka? Ingatlah, Malaysia tidak mempunyai warisan budaya dari nenek moyang mereka sendiri, karena semuanya itu ada di tanah Sumatra, mulai dari Aceh, Medan, lebih-lebih Kepulauan Riau dst., tapi kenapa mereka hal itu bisa terjadi?
Siapa yang akan bersalah dalam masalah ini? Pemerintahkah, Sastrawankah, Budayawankah, Senimankah, Mediakah, Polisikah, Teroriskah, Ormas-ormaskah atau ini adalah KARMA? Tidak bisa bung, masalah ini sudah tidak akan bisa terselesaikan kalau masih saja mencari kambing hitam, kita semua yang merasa sebagai warga Negara Republik Indonesia, otomastis kita jugalah yang salah. Tidak mau disalahkan, pindah saja dari Negeri ini bung!!! Jangan jadi warga Indonesia, pergi saja jauh-jauh dari Negara ini dan jangan pernah kembali lagi!!! Tolong ya bung, ini adalah masalah bangsa yang sudah diobrak-abrik, dipermalukan dan bukan permasalahan korupsi, teroris atau kawin cerai para selopbritis.
Mari kita lihat kebelakang mengapa kita semua turut andil sehingga Warisan Budaya bangsa kita dengan mudahnya tanpa ada rasa bersalah di klaim sebagai milik mereka. Perlu diperhatikan mereka itu sudah mempelajari situasi dan kondisi Negara kita saat ini, secara tidak langsung mereka itu licik dan kita terlalu picik sebagai bangsa yang besar.
Sekarang coba kita lihat satu-persatu peran kita sebagai orang yang memiliki Negara ini, kata kuncinya adalah “Warisan = Harta Gono-Gini”
1. Pemerintah, DPR, MPR dan kawan-kawan.
mereka saat ini masih sibuk mengurusi yang namanya perekonomian, demokrasi dsb., yang semu membias entah kemana, mereka sudah tidak bisa diharapkan lagi untuk mengurusi warisan budaya bangsa ini “lihat saja menteri yang terkait malah sibuk dengan daftar-mendaftar warisan bangsa, terus selama ini apa yang diurusi oleh badan pemerintah yang mengurusi masalah budaya, pertanyaannya udah terdaftar belum? Kalo sudah kenapa ada pengeklaiman kembali? kalo belum, siapa yang punya andil dalam urusan ini, terus biaya pendaftarannya berapa?”. Biarkan mereka berebut kekuasan dan memperkaya diri sendiri, toh kelak yang namanya manusia pasti mati kok, jangan takut bahwan azab ALLAH lebih perih daripada azab para sipir penjara Cipinang atau Nusa Kambangan. Jangan anda “bapak-bapak yang terhormat” mengatakan bahwa ini semua bohong dan fitnah. Sudahlah tidak usah munafik, lihat aja kenyataannya, fakta yang terjadi di depan mata kita sekarang. Ingatlah lebih banyak masyarakat yang apatis alias rasa kepercayaan sudah hilang daripada yang masih kokoh dengan mendukung kalian bung. Asal tahu saja ya, DPR angkatan I tidak digaji dan mereka juga tidak korupsi, malah mereka benar-benar loyal mengurus dan membela bangsa ini, dan yang sekarang? Apa harus dibuka aibnya? Apa masih belum cukup contoh-contoh yang benar-benar nyata terjadi mulai dari dulu sampai sekarang tanpa ada perubahan yang berarti, yang bisa bangsa ini rasakan, bukti kongkretnya: Warisan Budaya Bangsa dengan mudahnya di klaim milik Malaysia, udah berapa banyak pulau-pulau di Indonesia yang hilang tanpa bekas. Hutan berubah menjadi perkebunan sawit, karet, KKO dsb. Sawah-sawah milik rakyat menjadi perumahan mewah, apartemen, mall, pabrik dengan alasan menambah devisa Negara. Benda cagar budaya banyak yang hilang ditelan bumi, bahkan ada yang menjadi hotel berbintang di Medan, Sumatra Utara dengan nama Hotel Aston tempatnya para tukang pijet Usbeskistan kata mantan pemimpin BI Medan Romeo Rizal menyikapi gedung Balai Kota menjadi ruang lobi hotel tersebut. Kekayaan alam juga ikut terkuras habis tak terasa dengan alih-alih menyerap investor yang akhirnya para investor tersebut menyerap ubun-ubun bangsa ini. Sudah jelas mereka pasti mendapat ijin dari pihak yang terkait dan siapa pihak yang terkait itu? Kalo bukan P********H dkk, Masih mau mengelak lagi bung!!! Apa kita anggap saja yang mengeluarkan ijin dari mantri sunat keliling, alias kalau ingin dapat ijin harus disunat dulu biar lancar. Apa yang akan terjadi apabila perekonomian bangsa ini maju pesat dan menjadi Negara yang serba kecukupan, tidak ada utang, kemiskinan sudah teratasi dan tidak ada lagi rakyat yang menganggur, tetapi bangsanya tidak berbudaya?
2. Orang-orang terpelajar, terdidik dan semua yang mempunyai titel berderet-deret dari disiplin ilmu masing-masingnya.
Tidak bisa kita pungkiri, bahwa rasa dilematis pasti ada yang menghinggap di diri mereka, terutama dari disiplin ilmu humaniora, mengapa? Orang-orang inilah bertugas sebagai penjaga alur cerita dari bangsa kita ini, orang-orang yang harus bisa mengingatkan para pemimpin bangsa kalo sudah mulai agak melenceng dari garis-garis yang telah ditetapkan. Celakanya tidak sedikit dari mereka yang juga menggunakan azas manfaat, aji mumpung dsb., bahkan kejar-mengejar proyek juga masih menjadi lahan basah bagi mereka. Ada juga yang terlalu lama bersekolah di Negara luar terus pada waktu pulang ke Negara asalnya (Indonesia) ealah.. kok malah jadi (awalan “ke” + negara tempat dia sekolah + akhiran “an”) misalnya: keinggris-iggrisan, keamerika-amerikaan, keprancis-prancisan dsb. Mereka ini mengerti masalah bangsa bahkan paham sepaham-pahamnya, beberapa bulan yang lalu saya nekat untuk ikut menjadi peserta pada acara Kongres Pancasila yang diselenggarakan di Balairung UGM oleh Mahkamah Konstitusi dan UGM. Wah, terus terang saya sangat kagum ketika pembahasan dimulai, betapa saya merasa bahwa bau kencur masih menjadi aroma parfum yang saya pakai ketika berhadapan dengan para pemikir-pemikir bangsa ini. Tetapi ketika wacana dilempar, masalah dibahas di forum tapi solusi yang dihasilkan juga hanya sebatas solusi-solusi yang bersifat normatif, tanpa ada solusi nyata untuk perubahan. Lho kok begini ujung-ujungnya?
3. Media.
Sebenarnya, media adalah tempat yang strategis dan mempunyai peran penting untuk masalah kita saat ini, tapi apa yang terjadi? Mereka lebih asik mengangkat kasus-kasus kawin cerai para artis, kriminal, sinetron, teroris dsb., tapi tidak bisa kita salahkan juga wong kodrat manusia butuh makan, selain itu masih harus menggaji para wartawan, dan butuh biaya pemeliharaan barang-barang inventaris dsb., namun ketika kita menilik fungsi pokok dari media baik itu yang bersifat massa ataupun elite, saya rasa sama saja kok tidak ada yang berubah kalau kita melihat undang-undang penyiaran dan pemberitaan yaitu: memberikan informasi, pendidikan, hiburan dan manfaat untuk pembentukan intelektualitas, watak, moral, kemajuan, kekuatan bangsa, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mengamalkan nilai-nilai budaya Indonesia dan agama. Apa masih belum cukup? Tapi kenyataan yang ada, apa? Intensitas menyiarkan sinetron dan impotenment lebih dari-dari-dari cukup untuk merusak moral bangsa, bahkan acara yang mengiklankan beberapa apartemen, mall yang mewah dan megah karya agug sedayu group di salah satu stasius tv swasta terasa jor-joran. Apa kata saudara-saudara kita yang untuk makan saja mereka masih susah? Apa acara tersebut bisa memacu semangat mereka biar tidak putus asa dalam hidupnya agar kuat membeli salah satu bilik apartemen yang ditawarkan? Bung, sudahlah jangan membuat kesenjangan ini semakin tak ada ujungnya. Tapi kan ada juga yang isinya berita dan informasi sepanjang hari bung? Iya, memang benar, tapi isi beritanya juga tidak begitu menarik, mengapa? terkadang terkesan terlalu hiperbolis dan terlalu didramatisir isi pemberitaannya apalagi kalo misalnya ada kasus besar yang lagi ngangkat namanya, contohnya penggerebekan teroris kemarin, saya sendiri sampai muak melihatnya. Satu lagi yang saya baru sadar setelah membaca bukunya Alif Danya Munsyi, bahwa ternyata pada stasiun-stasiun tv di Negara kita banyak yang tidak menggunakan bahasa Indonesia dan lebih memilih menggunakan Bahasa Inggris untuk tajuk-tajuk acara yang ditawarkan. Mungkin mereka malu apabila menggunakan Bahasa Indonesia? Atau biar terlihat keren, terpelajar dan motif-motif yang menjijikkan lainnya. Dalam hati saya bertanya, kenapa sampai hal ini bisa terjadi pada sebuah institusi yang mempunyai peranan sangat-sangat krusial dalam sebuah Negara? Ingatlah undang-undang dan fungsi anda sebagai MEDIA. Bagaimana kita bisa bangga dengan bangsa ini kalo kita sendiri saja tidak bangga dengan bahasa bangsa sendiri. Ingatlah kawan, Televisi itu lebih berpengaruh daripada surat kabar, majalah, radio dll., mengapa? karena media massa ini (tv) tidak hanya menyerang indra pendengaran tapi juga indra penglihatan juga ikut main dalam menikmati seluruh acara setiap harinya, kalau yang lain hanya terbatas pada salah satu indra saja. Surat kabar atau majalah, kita masih harus membaca (kalau tidak malas). Radio, kita masih harus mendengar dengan seksama (dan sekarang lebih banyak menyiarkan lagu-lagu daripada informasi). Tetapi kalau televisi, kita hanya duduk, diam di depan tv, habis perkara, semuanya dengan cepat masuk. Itu makanya dulu ada kasus anak-anak yang smack down di rumah sampai makan korban, orang-orang yang frustasi terus mencari menara sutet dan banyak lagi kasus yang secara tidak langsung terpengaruh oleh media pertelevisian tanah air. Nah permasalahnnya, tingkat pemberitaan dan pelestarian mengenai warisan budaya bangsa ini sangat-sangat minim sekali ditayangkan, kalaupun ada paling-paling hanya ½ jam siarannya itupun masih dipotong iklan sak bajeg kere. Walaupun ada salah satu stasiun tv swasta yang menggelar sebuah acara yang mengarah kepada salah satu warisan budaya yaitu “Opera van Java” tapi lagi-lagi menggunakaan kata JAVA yang notabene artinya Jawa, terus bagaimana dengan Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTT, NTB, Irian Jaya dan pulau-pulau yang lain?
Ada juga kaum di Negara ini yang membuat hukum karma tersebut jatuh pada bangsa kita, antara lain:
a. Para pembajak karya seseorang akhirnya warisan kita dibajak Negara lain.
b. Para musisi yang merasa cipta karyanya njiplak karya orang lain (kalau mau jujur).
c. Orang-orang yang tinggal di Jakata, Bandung dan sekitarnya yang tidak mengakui bahwa dia berada di pulau Jawa, dan menurut mereka Jawa itu dimulai dari Jawa Tengah sampai Jawa Timur. Mengapa? lihat saja angklung diklaim milik Malaysia.
d. Orang-orang yang menjual bangsa ini, wong kekayaan alam dan kepulauan kita aja dijual kok (itu yang kasat mata) nah warisan budaya tidak kasat mata (ya dengan gampangnya pindah ke Negara lain).
e. Dan saya sendiri sebagai warga Negara Republik Indonesia, mengapa? Saya tidak bisa menjaga warisan para leluhur bangsa ini yang diberikan kepada saya untuk dijaga sebaik-baiknya jangan sampai jatuh ke tangan orang lain.
Pertanyaannya:
1. Bagaimana kalau Malaysia kita angkat sebagai saudara dan kita jadikan mereka sebagai anggota keluarga? Jadi Indonesia adalah saudara tua Malaysia, seperti yang diajarkan Jepang atas Indonesia 64 tahun yang lalu, sehingga untuk pembagian harta warisan bisa kita daftarkan ke notaris setempat, dan tidak ada saling rebut.
2. Jangan-jangan hal ini terjadi karena Negara terlalu banyak mengekspor tenaga kerja baik yang sah ataupun selundupan ke Malaysia, mereka akhirnya beranak-pinak disana dan tentu saja, mereka juga berhak atas warisan budaya leluhur bangsa Indonesia. Wong mereka (anak-anak keturunan para TKI) juga berdarah Indonesia kan? (secara tidak langsung).
Solusinya:
Bersifat normatif:
1. Introspeksi diri yang mengarah kepada introspeksi kebangsaan.
2. Banyak-banyak berdoa semoga Malaysia di beri ampunan karena telah mencuri warisan kita.
3. Merubah watak dan moral masing-masing individu dan berjanji tidak berbuat kesalahan lagi.
4. Jangan lagi-lagi melanggar aturan.
5. Sayangilah, cintailah, dan jaga baik-baik warisan budaya bangsa ini.
6. Jangan membenci Malaysia, toh dia juga masih tetangga kita, maafkanlah kekhilafannya.
Langkah nyata:
1. Stop mengekspor tenaga kerja ke Malaysia, dan tarik semua tenaga kerja Indonesia tersebut pulang ke negaranya (berarti ntar akan menambah pengangguran ni ceritanya).
2. Pulangkan Manohara ke suaminya, dan biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri (wong masalah keluarga kok dikait-kaitkan sama bangsa ini).
3. Tutup perusahaan-perusahaan milik Malaysia di Indonesia misalnya petronas dan proton dsb.
4. Nasionalisasikan perkebunan-perkebunan milik orang Malaysia yang berada di Indonesia.
5. Putuskan jalur diplomasi kita ke Negara tersebut.
6. Jangan beri jalan untuk bisa masuk ke Negara kita.
7. Perang!!!
(untuk solusi nyata ini perlu diingat satu pertanyaan, apa kita sudah berani? Tapi yang jelas orang berani akan kalah sama orang yang nekat)
Sudah cukuplah kita dipermalukan bung, bahkan sampai teroris milik Malaysia pun, kita impor ke Indonesia. Bangsa ini sedang membangun tetapi janganlah kita melupakan hal-hal mendasar terbentuknya sebuah bangsa itu sendiri. Indonesia adalah bangsa yang Besar!!! Bukan bangsa yang besar kemaluannya. Marilah kita sebagai warga Negara Republik Indonesia menjaga nilai-nilai luhur bangsa ini, warisan budaya dari para leluhur bangsa ini bersama-sama. Ingatlah warna bendera kita, pahamilah dasar Negara ini. Kita boleh menerima budaya-budaya dari bangsa lain karena kebudayaan juga bersifat dinamis tapi alangkah baiknya kalo kita tetap pada budaya kita sendiri mulai dari bahasa sampai moral dan kearifan bangsa, karena itu akan menjadikan bangsa ini mempunyai harkat dan martabat di mata bangsa-bangsa lain.
Hilangkanlah rasa apatis kita pada para pemimpin bangsa mulai dari sekarang, karena kita butuh perubahan. Buat para pemimpin kami yang tercinta “sudahlah, kami sudah capek melihat kelakuan kalian yang tidak bisa dirubah sedikitpun, apa kalian tidak malu dengan banyaknya masyarakat yang sudah tidak percaya dengan kredibilitas kalian sebagai pemimpin, mau sampai kapan kita seperti ini terus. Memang benar permasalahan ini semakih hari semakin ruwet, ibarat benang yang panjangnya ribuan kilometer, kusut membentiuk sebuah bola yang kusut juga. Kalo sudah tidak bisa lagi diluruskan bola tersebut ke bentuk aslinya yaitu benang yang lurus tanpa ada sambungan, berarti jalan satu-satunya harus dibakar sampai menjadi abu, kita bikin benang baru dan di jaga jangan sampai kusut kembali. Ingatlah anak cucu bangsa ini”.
“Aku bangga dilahirkan sebagai anak bangsa Indonesia”
“Reformasi bukan berarti Revolusi”, “ketika Reformasi tidak juga membawa perubahan yang berarti, itu tandanya tidak ada jalan lain selain Revolusi, MAU!!!”
Wassalam,
Wendy.darmawan
Sekolah-sekolah-sekolah…
All comments are moderated. Your comments will not appear here unless approved by the blog owner. Thank you.