behind every beautiful thing there's some kind of pain

Home » Post Item » lebih tepatnya latah…

lebih tepatnya latah…

August 26, 2009

demikianlah yang sering terjadi dalam benakku dan mungkin dalam benak anda, pertanyaan-pertanyaan seputar produk-produk media umum yang dinikmati oleh masyarakat Indonesia saat ini.
proses kreatif tercipta untuk pertama sekalinya dan selanjutnya diikuti oleh proses-proses kreatif lainnya yang menghasilkan produk “serupa tapi tak sama”.
produk musik dan film anak bangsa yang bisa digolongkan produk elite menuju massa (kalo sinetron atau impotenment ga usah dibicarakan soalnya dia udah jadi produk massa atau lebih tepatnya “produk perusak massa”).
ketika kita membicarakan tentang hal diatas maka yang terbesit di dalam hati adalah “wah…ternyata kita bisa bikin sesuatu yang baru” dan kemudian sebuah pertanyaan besar kembali terbesit “lho…kok pada ngikut semua toh???”
untuk film layar lebar karya anak bangsa “Ada Apa Dengan Cinta” (wah…larisnya bukan main sampai ada sinetronnya lho…)
kemudian lahirlah film-film yang “serupa tapi tak sama”.
terus ada yang penggebrak dengan mengangkat tema “horor”, dan diikuti oleh horor-horor yang lain.
kemudian lahir lagi dengan tema “yang lebih menggebrak” dan jangan takut pasti ada pengikutnya kok kelak, lihat aja ntar…
kalo musik…
em…oya, banyak yang lahir dengan jalan instan alias masak karbitan.
banyak kritikan muncul mulai dari kurang menggigit sampai produk-poduk jiplakan, tapi anehnya mereka semua naik semua namanya walau tidak sedikit yang mengeluarkan produk limited edition alias sekali rekaman selanjutnya bubar.
dan sekarang hampir bulan ramadhan (lihatlah berapa banyak yang mengeluarkan album-album bertajuk religi) yang di gebrak pertama sekali oleh “gigi”.
dan masih banyak lagi contoh konkretnya.
demikianlah kondisi pasar kreatif kebanyakan anak negeri saat ini, tidak bisa kita pungkiri bahwa inilah kondisi kita di tengah arus pasar bebas dan kebutuhan akan sandang, pangan dan papan.
ini adalah salah satu dari enam atau lebih ciri Manusia Indonesia yaitu “artistik, berbakat seni dan lemah watak atau karakternya” menurut Mochtar Lubis.
nah selanjutnya Moctar Lubis menambahkan “selama … kita dengan segala ciri-cirinya tidak kita ubah secara sadar, maka tidak mungkin manusia Indonesia akan berubah dan berkembang menjadi manusia dengan pribadi dan watak yang utuh, dengan nilai-nilai dan sikap yang kita perlukan untuk menghadapi dunia sekarang ini, agar dapat menyelamatkan bangsa kita menjelang tahun 2000 dan seterusnya”
dan sekarang sudah tahun 2009 ternyata ciri manusia Indonesia belum ada yang berubah, dan hal ini pernah diulas pada salah satu surat kabar nasional dan diakhir ulasan tersebut dikatakan “kalo saja Moctar Lubis mendengar hal ini, dia akan menangis di dalam kuburnya”
tidak bisa kita pungkiri bahwa ciri-ciri tersebut masih Up to Date sampai sekarang dan ciri-ciri yang lain juga posisinya masih sama.
mengapa kita masih saja seperti ini, apakah ini yang namanya dengan “terpurukku disini” atau memang kita sudah berjalan tapi “jalan di tempat”.
bung…kita sebagai generasi muda Indonesia seharusnya resah melihat kondisi yang seperti ini, Moctar Lubis memberi ciri tersebut pada ceramahnya tanggal 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki - Jakarta dengan harapan pada tahun 2000 dst., terjadi sebuah perubahan yang nyata.
tapi kita juga tidak bisa menyalahkan siapa-siapa dalam hal ini, mungkin ini kodrat atau ini adalah sebuah proses menuju hal yang lebih baik.
alangkah baiknya kita mulai dari sekarang untuk lebih banyak mengintrospeksi diri, tapi berapa lama kita akan mengintrospeksi diri?
hanya tuhanlah yang tahu…
hihihihihihihi…

wassalam,
wendy.darmawan

Posted by bear at 4:16 am | permalink

All comments are moderated. Your comments will not appear here unless approved by the blog owner. Thank you.

Add a comment