behind every beautiful thing there's some kind of pain

Home » Archives » September 2009

belum terpikirkan

September 6, 2009

Belum terpikirkan

Wednesday, September 02, 2009

7:13 AM

 

Pagi ini seperti biasanya bangun tidur, cuci muka dan sikat gigi, dandan kecil-kecilan, sarapan, ngopi, ngerokok sebatang dan siap-siap berangkat ke tempat yang menjenuhkan “kampus”. Begitulah seorang pemuda yang bernama Panjoel Kusuma, mahasiswa Ektensi Ilmu Perpustakaan di salah satu Universitas Negeri di Negara ini, walaupun dia dari D3 Bahasa Arab, dengan modal nekat dia masuk Ekstensi Ilmu Perpustakaan tanpa bekal sedikitpun. Dan sekarang dia sedang menuai masalah dari kenekatannya itu, karena menurut aturan tidak boleh lintas jurusan, tapi menurut hasil ujian masuk, dia keterima.

 

“bu.. Berangkat dulu ya..salam likum” dia selalu ingat pesan dari kakeknya yang mengharuskan pamit ketika hendak berpergian.

“Memang benar kata orang, setiap pagi tuhan selalu menyebarkan rejekinya dimana-mana, nah..kalo yang ini namanya rejeki buat mataku” sambil melirik sejenak ke salah satu barisan yang sudah terbiasa menunggu angkutan umum untuk selanjutnya mengantarkan mereka ke tempat yang mengasyikan “SMU”.  Masa yang indah dan tak terlupakan adalah masa ketika aku masih duduk di bangku SMU, memang belum ada teori yang menguatkan tentang hal itu tapi ini masalah kenyataan yang aku rasakan bukan lagi teori.

“ya sudahlah, aku harus berjalan terus walaupun sudah 26 tahun umurku, kuhabiskan untuk sekolah tapi ini juga untuk bekalku kelak”.

 

Dengan kuda besi kesayangannya yang tak jelas surat-suratnya itu yang selalu setia menemaninya kemanapun dia pergi.  

 

“weh…memang kok, masak lampu merah pada jalan semua? Pada buta warna apa ya? Terus aku berhenti sendirian nih ceritanya, ah..malu ah..ga ada temennya”

 

Lho..kok dia malah ikutan ngelanggar lampu merah alias traffic light toh? Ini makna dari pepatah “ala bisa karena biasa”. Karena udah pada kebiasaan ngelanggar lampu merah, jadi yang seharusnya berhenti ketika lampu berwarna merah akhirnya bisa jalan. Untung aja pak polisi juga banyak yang ikutan ngelanggar jadi yang lain akhirnya ikut ngelanggar deh dan anehnya lagi jarang sekali ada tabrakan di setiap perempatan yang nota bene traffic light nya tidak ngaruh bagi pengguna jalan. Kok bisa ya?

 

“bang…” seperti biasa kalo mau parkir harus menyapa abang-abang yang ditugasi menjaga parkiran kampus biar semakin akrab, kan kita adalah saudara walaupun tidak sebapak dan seibu tapi setidaknya kita semua keturunan Adam dan Hawa.

“nah itu ada tempat kosong, si bongsor ini akan aku tancapkan di sana saja” baru aja selesai memarkirkan motor ada suara yang agak sedikit mangejutkan

“eh, motormu ada STNK nya ga?” ternyata bang Karto yang sedang bersuara

“mak..kayak polisi aja ah nanya surat segala, ada dong tapi masa berlakunya udah habis 5 tahun yang lalu bang” sambil menunjukkan suratnya ke bang karto.

“tumben motor kau ada STNKnya, biasanya ga ada”, sambil senyum manis khas bang Karto dengan alis yang diangkat-angkat dikit.

“ya sekali-kalilah bang agak tertib dikit” Wah ternyata aku udah dihafalin ni, setiap bawa motor pasti ga ada surat-suratnya.

“eh yang biasanya kau bawa mana? Yang ga ada surat-suratnya? Kok malah ganti lagi, hehehehehe…pasti masuk bengkel toh”  tebak bang Karto

“benar sekali bang, maklumlah motorku usianya udah pada uzur semua, yang paling muda saja keluaran tahun 61, apalagi yang lain bang” mencoba untuk mengelak tapi ga bisa dan akhirnya ya menghibur diri sendiri deh

“hahahahahaha…memangnya kau punya motor berapa? Kayak konglongmerat aja yang ngoleksi banyak barang-barang antik, motor tua, mobil tua bahkan ada juga yang iseng-iseng ngoleksi Benda Cagar Budaya” bang Karto mulai berkelakar lagi ni kalo ditanggapi terus

“udahlah bang, aku mau masuk dulu ni, kasihan mahasiswaku udah pada nunggu tu di kelas” sambil beranjak dari tempat tempat parkir

“matamu njoel..Panjoel..kuliah D3 aja lulus 6 tahun kok malah nggaya, ya udah sana” sambil kedua tangannya di kepakkan tepat di depan dadanya menandakan usiran halus ala Karto.

 

Ya, begitulah Karto, yang nama lengkapnya Panji Sukarto, pegawai honorer di salah satu Universitas Negeri terkemuka di Negara ini, pengabdiannya pada kampus yang sudah hampir 40 tahun itu, hanya menyandang status pegawai honorer. Mungkin karena dia juga orang jawa dan menganut paham nrimo opo anane (nerima apa adanya) jadi masalah status kepegawaiannya tidak begitu dia permasalahkan, walaupun terkadang dia juga bingung dengan sistem dan aturan yang selalu menghambatnya ketika ada pengangkatan pegawai dari honorer menjadi tetap. Namun aku juga terkadang heran melihat bang Karto, udah tau hidupnya susah tapi disetiap harinya dia selalu saja ceria, kayak ga ada beban dalam hidupnya.

 

“saya dengar angkatan yang baru sekarang ada yang bukan dari D3 Ilmu perpustakaan atau Kearsipan ya?”, “kan sudah saya katakan program ini tidak bisa lintas jurusan, soalnya ini didirikan khusus buat yang ngelanjut saja”, “selain itu kita juga ga ada matrikulasinya, ya udah tanya aja dulu sama dekan ya” demikianlah pernyataan dari ketua jurusan ilmu perpustakaan beberapa waku yang lalu, dan jelas ketika itu aku kaget plus senang. Kagetnya karena berarti ini masalah, dan harus aku hadapi, senangnya adalah bahwa saya berhasil lolos ujian pertama untuk bisa mendapatkan ilmu yang sangat aku idam-idamkan sejak dulu. Nah sekarang pertanyaannya “aku bisa lolos ga pada ujian yang kedua, yaitu ngelobi dekan dan kajur kelak?” tanya Panjoel dalam hati sambil mengingat-ingat perkataan pak kajur beberapa waktu yang lalu.

 

Sebenarnya Panjoel sudah tahu semenjak pertama sekali dia berniat untuk mendaftar di program ekstensi tersebut, tapi dia mencoba bertanya ke dekan dan dekan menyatakan bahwa dia ikut ujian aja dulu, ntar kalo lulus dan diterima baru kita atur lagi kedepannya. Namanya juga Panjoel, dia nekat aja ikut ujian, dan ternyata lulus, ada kesempatan dia langsung registrasi dan melengkapi semua persyaratan administrasi. Ternyata posisi aman, langsung dia KRS dan memulai kuliahnya. Dan sekarang, bukan masalah sih sebenarnya, lebih tepatnya adalah mengklarifikasi posisi saja.

 

Begitulah Panjoel, mahasiswa yang pernah kuliah selama 6 tahun di universitas yang sangat terkenal di Indonesia dan hanya mendapatkan gelar sarjana muda. Ironis memang, tapi di satu sisi dia berhasil mengotak-atik sistem administrasi universitas tersebut dan ternyata berhasil. Ceritanya pada waktu awal dia masuk kuliah, dia aktif hanya 1 tahun dan kemudian minggat selama 1,5 tahun disambung cuti 1 tahun jadi totalnya dia kuliah selama 2 semester kemudian 5 semester dia tak pernah kuliah. Menurut aturan yang berlaku ketika seorang mahasiswa yang pernah cuti tidak resmi dan ingin melanjutkan kuliahnya lagi dia harus membayar sebanyak berapa semester dia cuti tak resminya ditambah dengan uang kuliah semester yang baru. Kenyataannya si Panjoel ketika dia akan aktif kembali dia hanya membayar uang kuliah satu semester saja, jadi yang seharusnya dia membayar sebanyak 5,4 juta rupiah, dengan lobi dan mencari celah sedikit dia hanya membayar sejumlah 1,15 jt rupiah saja. Bukannya bermaksud bermain curang tapi dia mencoba dengan celah-celah yang ada dengan tertib dia ikuti dan akhirnya berhasil KTM pun keluar dan kuliah dimulai lagi.

 

“wealah…dosennya belum masuk toh Lis?” pertanyaan yang sudah biasa terlontarkan setiap masuk kelas

“belum njul, mungkin ruangannya pindah lagi”

“pindah kemana? Ke ruang konverens ya” tanyaku

“mungkin saja, coba aku sms silvia dulu, tanya ruangannya dimana ya” jawabnya sambil ngetik sms untuk memastikan

 

Pasti, hal seperti ini selalu terjadi di setiap hari-harinya pada saat kuliah. Secara kasat mata gedung yang khusus jurusan Ilmu Perpustakaan lagi dalam perbaikan, jadi jadwal kuliah yang seharusnya di ruang C201 akhirnya harus berpindah-pindah sesuai keinginan sang dosen.

 

“masuk kok Jul, di perpustakaan pusat, ruang conferences” akhirnya Lilis mendapatkan info yang akurat, “ya udah, kesana aja kita sekarang” ajakku sambil berjalan keluar kelas.

 

“ya…semoga niatku untuk menyelesaikan kuliahku sekarang dengan semangat ‘45 ku tidak putus di tengah jalan hanya gara-gara sebuah sistem yang berlaku”

“tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina, semoga hakekatnya benar-benar ada dalam kehidupan pendidikan di negaraku tercinta ini” dan pernyataan dari seorang Wakil Rektor salah satu Universitas termegah di pulau jawa yang menyatakan bahwa ketika anda menginginkan ilmu yang bermutu maka anda harus berani membayar mahal ilmu tersebut (maksud dia materiil), wah kalo benar seperti ini adanya berarti pepatah diatas diganti saja menjadi “bayarlah dulu sampai anda menjual jiwa dan raga baru ilmu akan aku impor dari cina”

“ya sudahlah aku hanya berharap yang namanya ilmu, sekolahan, kuliahan, buku tidak menjadi komoditas pasar yang menjadi lahan basah bagi terwujudnya cita-cita luhur para pengeruk harta karun” 

 

“kok males masuk ya…Lis aku pulang aja ya, titip absen ya, makasi Lilis yang manis”

“huhhh…dasar Panjoel” dengan agak sewot dia meneruskan perjalanannya ke ruang kuliah yang saat ini berstatus nomaden. 

 

Wassalam,

Wendy.darmawan

Posted by bear at 11:52 pm | permalink | Add comment

obrolan sore

Obrolan sore

Wednesday, September 02, 2009

9:10 PM

 

“Rin, ini yang kau namakan dengan demokrasi? Setiap ada masalah selalu saja demon, nanti kalo mau dibubarkan sama aparat terus mereka malah melawan dan akhirnya dibubarkan secara paksa, nanti polisinya kena kasus HAM, cemana nya rin, apa pendapat kau, kan kau mahasiswa, kusekolahkan ke Jawa” terlihat seorang bapak yang lagi asik nonton berita sore bersama anaknya Rinto.

 

“cemana ya pak, kalo aku sih sebenarnya malas kali lihat yang kayak gini. Dulu tahun 98, kita sebagai mahasiswa berdemo untuk menyampaikan aspirasi memang benar-benar demo pak dan bapak lihat sendirilah hasilnya, kami berhasil menumbangkan rezim orde baru” jawab Rinto

 

“iya Rin, Tapi sekarang inilah, katanya reformasi, mana perubahannya? Masak yang berubah Cuma presidennya, kondisi rakyat juga secara keseluruhan ga ada yang berubah, masih sama kayak dulu. Malah kalo menurut aku lebih baik yang dulu daripada sekarang. Minimal kita merasa aman tinggal di Indonesia” sang bapak pun kembali bertanya

 

“gini lho pak, idealisme mahasiswa jaman sekarang berbeda dengan yang dulu, sekarang mereka lebih kepada idealisme pasar pak, kalo menurut aku demon itu sekarang sudah tidak murni seperti dulu, kita lihat sajalah pak, sekarang orang demon jarang yang nyampe 100 orang paling banyak 50 orang, malah terkadang lebih banyak wartawan yang meliput aksi daripada peserta aksinya. Banyak faktor yang mempengaruhi perubahan idealis tersebut salah satunya yang paling terlihat adalah mahasiswa yang bisa kuliah rata-rata anak-anaknya orang berduit pak, biaya sekolah mahalnya minta ampun sekarang. Selain itu keresahan yang dirasakan para mahasiswa sudah tidak sama seperti dulu, coba bapak bayangkan keresahan yang dialami orang yang berduit sama orang yang tidak berduit, kan lain pak” bapak pun terlihat serius mendengarkan si anak yang seperti berorasi

 

“nah para mahasiswa yang sekarang, keresahannya adalah takut ketinggalan jaman, artinya hari ini ada produk baru apa ya? Aku harus punya. Wah fashion terbaru apa ya? Masak aku ga beli, mak…dia udah punya blackberry ah.. masak aku masih nokia 3315. jadi seperti itu pak yang terjadi sekarang. Dan juga obrolan yang terjadi antar mahasiswa paling-paling curhat masalah percintaan, gosip kesana kemari, kalo ada yang memulai dengan tema-tema masalah sosial, politik, si-kon negara, mereka cenderung menghindar pak dengan alasan obrolannya terlalu berat” si rinto pun tampak serius menjelaskan pada bapaknya

“tapi rin, mahasiswa kan… apa itu istilahnya aku lupa, bentar…bentar…” si bapak mencoba mengingat-ingat

“nah… agent of changes kata orang-orang hebat itu rin” si bapak memancing lagi kayaknya tu

“agent of changes pak, ya itulah pak… peran tersebut masih di jalankan sama para mahasiswa sekarang pak, tapi yang dirubah sama mereka adalah pasar pak, bukan merencanakan perubahan untuk negara menjadi lebih baik. Biar bapak tau aja ya, biaya sekolah yang cukup mahal dan masa study yang dibatasi, menjadikan para mahasiswa yang sebenarnya punya potensi menuju agent of changes tersebut menjadi study oriented. Cemanalah pak, kalo telat lulusnya nanti di DO padahal uang udah keluar banyak, itu makanya banyak perguruan tinggi yang meluluskan sarjana-sarjana siap saji, alias instan dan mereka kalo dapat kerja isinya Cuma uang agar cepat kaya, kalo yang ga dapat-dapat kerja cenderung memilih jalan untuk putus asa, menyesali nasib tanpa mau bergerak alias jadi malas pak, dengan dalih aku bergelar S1 kok malah jadi buruh” jelas si Rinto kepada bapaknya

 

“ooo gitu ya, sekarang gini rin, aku mau tanya, menurutmu demokrasi itu apa rin? Terus batasan dari HAM itu dimana letaknya?” bapaknya kembali bertanya sambil menenggak segelas kopi kesukaannya.

 

“kalau menurut aku demokrasi itu adalah suatu paham yang menganut kebebasan untuk mengemukakan pendapat, konsep demokrasi kan dari kita, untuk kita dan kembali ke kita alias kedaulatan sepenuhnya berada di tangan rakyat. Jadi pak, ketika kita merasa ada sesuatu yang tidak cocok dihati dan itu mewakili orang banyak bukan individu atau golongan kita berhak untuk menyuarakannya, menyampaikannya kepada para wakil rakyat yang sudah dipilih oleh rakyat itu sendiri, dan si wakil rakyat harus mau mendengarkan aspirasi yang disampaikan untuk selanjutnya di tindak lanjuti ke tingkat yang selanjutnya, idealnya seperti itu. Kalo masalah HAM aku tidak begitu paham pak, soalnya menurut aku HAM atau hak azasi manusia itu adalah milik-NYA, dan ketika ada orang yang mengotak-atik tentang  HAM berarti dia sudah memasuki ranah-NYA. Manusia hanya bisa membela HAM tanpa bisa memilah-milah hukumnya” Rinto terlihat semangat menjelaskan semua pertanyaan-pertanyaan bapaknya

 

“itu berarti para anggota DPR yang duduk di kursi-kursi berlapiskan kekuasaan berkat kita sebagai rakyat ya rin, coba kalo ga rakyatnya mereka kan ga dapat kerjaan”   ungkap bapak dengan sedikit tersenyum yang menyimpan makna tak terbaca

“ya udahlah Rin, masalah ini semua kelak akan jadi tugasmu dan teman-temanmu untuk mamperbaiki dan menjadikan negara ini menjadi negara yang besar. Bukan hanya besar ngomong tapi juga besar di mata dunia dan disegani kayak jaman kakek kau dulu, ingat itu rin!” sambil menepuk bahuku dan beranjak dari duduknya dan tersenyum lagi “oya…ngomong-ngomong pintar juga anakku yang satu ini ya, walaupun hanya mengamati dari sudut pandang kenyataan tapi memang itulah kebenaran yang terlaku sekarang ini kan, ga sia-sia aku menyekolahkan kau sampai 6 tahun lamanya. Tapi kok masih bergelar sarjana muda ya, hahahahaha…” bapak pun meninggalkan rinto sendirian di depan tv

“eh…jangan gitulah pak, malah nyindir aku pula kau pak” Rinto terlihat bingung tak menentu melihat ulah bapaknya yang agak aneh menurutnya.

 

Wassalam,

Wendy.darmawan 

 

Posted by bear at 11:51 pm | permalink | Add comment

gundul

Gundul

Friday, September 04, 2009

2:16 AM

 

“lagi ngapain kau Jo?”tanya seorang anak yang merasa sok dewasa kepada seorang pemuda yang benar-benar sudah dewasa

“wah, berani kali kau ya, berapa sih umur kau sekarang?” Bejo merasa direndahkan dengan pertanyaan anak tadi

“ngapain kau ke sini? Udah ga sekolah, merokok pula kau disini ya!!! Buang itu rokok kau Dul, kau pikir gampang nyari uang!” tambah berang Bejo dengan anak tadi yang bernama Anto dengan panggilan akrabnya Gundul, karena gaya rambutnya yang selalu gundul disetiap ada kesempatan untuk potong rambut

“hehe..ya jangan gitulah bang, akukan Cuma bercanda bang” sambil membuang rokoknya dengan wajah yang agak memucat karena melihat Bejo yang terlihat marah

“sini kau, ikut aku kedalam” ajak Bejo

“iya bang” sambil mengikutinya dari belakang

 

Di sebuah rumah yang berada di pinggiran kota Medan, tepatnya daerah Medan Johor masuk kedalam. Bejo seorang pemuda yang tidak lulus kuliahnya di tehnik mesin USU, ketika itu dia tersandung masalah ekonomi semenjak ditinggal bapaknya untuk selamanya karena truck yang di kemudikannya jatuh ke jurang di daerah Sumatra Barat. Bejo tinggal bersama ibu dan ketiga adiknya, dan semenjak bapaknya meninggal dia menjadi tulang punggung keluarga yang harus menghidupi ibunya dan membiayai adik-adiknya sekolah. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga dia membuka sebuah bengkel sepeda motor dan jual beli motor. Hasil yang didapat terbilang cukup untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga tapi tidak untuk hal-hal yang sifatnya pemborosan.

 

“sini kau, duduk dulu” Bejo menyuruh Gundul untuk duduk

“mau minum apa kau?” sambil melangkah menuju dapur

“ga usah bang, aku belum haus kok bang” Gundul ga berani untuk meminta

“alah, banyak kali alasan kau, masak kau ga haus, yang kau pikirnya aku ga tau kalo merokok itu bisa menimbulkan tenggorokan kering dan pengen minum Dul”

“nah, air putih aja ya” Bejo membawakan air putih untuk menjamu tamunya sambil menuangkannya ke dalam gelas kecil yang berwarna coklat tua

“kok ga sekolah kau, cabut kau ya?” tanya Bejo

“ngga bang, tadi sekolah pulang cepat, lagi ada kerja bakti” Gundul mencoba mencari alasan

 

Itulah Anto alias Gundul, seorang anak yang masih berusia 12 tahun dan masih duduk di bangku SMP di salah satu sekolah yayasan di daerah Medan Johor. Gundul yang terkenal sebagai tukang cabut sekolah itu berasal dari keluarga yang terbilang serba berkecukupan, tapi dikarenakan dia terjebak dalam dunia keglamoran anak-anak muda jaman sekarang yang mendewakan sesuatu yang disebut dengan “anti kemapanan” sehingga membawa dia ke tempat yang tidak jelas juntrungannya. Fenomena tentang kelompok masyarakat yang menghiasi kehidupan kita dengan slogan anti kemapanan tersebut tidak bisa kita jadikan devian dalam kehidupan ini. Konsep tentang anti kemapanan tersebut merupakan kritik sosial pada semakin dalamnya sebuah kesenjangan sosial yang terjadi saat ini. Idealisme pemberontak ini tidak selamanya salah dalam pandangan masyarakat awam, namun kita cenderung menganggap mereka sebagai sampah. Coba cari inti dari permasalahannya, yang sebenarnya tidak ada masalah dalam hal ini. Ketika kita tahu dan mengerti akan mimpi-mimpi mereka maka tidak bisa tidak kita akan berpikir dua kali untuk bisa mewujudkannya. Tidak sedikit dari mereka yang berasal dari keluarga yang mampu secara materi, namun ada faktor-faktor yang menjadikan mereka untuk turun ke jalan, mencari sebuah kehidupan yang bebas tak terikat dengan aturan-aturan yang ada. Broken home salah satunya. Ada pelajaran yang dapat kita ambil dari kehidupan mereka yaitu sebuah kebersamaan yang notabene untuk kehidupan bermasyarakat di Negara ini sudah semakin rentan, bahkan hampir punah. Walaupun di sisi lain ada hal-hal yang negatif yang juga mereka lakukan dalam kehidupannya.

 

“alasan kau ada aja Dul, dari dulu… yang kau bilang ga belajarlah, ada kerja bakti, gurunya ga datang, sampai kadang kau bilang nyasar, lupa jalan ke sekolah… Dul… Gundul… sini… bagi dulu rokok kau sebatang” pinta Bejo

“ini bang” sambil mengeluarkan sebungkus rokok yang biasa di konsumsi para muda-mudi bangsa ini

“eh, udah sampai mana perjalanan kau, yang sering kau bilang dengan anti kemapanan itu Dul?” tanya Bejo sambil membakar rokok pemberian Gundul

“apa kau masih di situ-situ aja, di simpang empat, bawa gitar kecil, nyanyi ga jelas dengan harapan mendapat imbalan dari pengendara mobil-mobil mewah itu, terus kalo ada yang berkenan kau ikut menumpang di bak belakang pick-up untuk pergi ke simpang yang lain, hah…?” Bejo melanjutkan pertanyaannya

“abang ini kenapa sih, selalu saja tanya masalah itu, biar tahu aja ya bang, itu idealisku bang, itu cara aku untuk memberontak sama kondisi Negara dan Pemerintah dan kroni-kroninya bang” Gundul memberanikan diri untuk mengelak dari pertanyaan Bejo

“aku tahu itu ndul, tapikan itu bukan cara yang pas Dul, kau juga butuh ilmu Dul, bukan terus idealis anti kemapanan kau salah gunakan dan kau jadikan alasan untuk hidup bebas, dengan seenaknya tanpa ada aksi yang berarti”

“sekarang niat kau ikut itu apa Dul? Kalo hanya ikut-ikutan biar terlihat paten dengan potongan-potongan ala gembel tapi otak kau juga buntu, sama aja Dul, mendingan kau maen sinetron aja dapat duit, ngetop bisa nampang lagi. Negara ini malah tambah kacau, dan kau ikut andil mengacaukan Negara ini kalau yang terjadi adalah paham ikut-ikutan, semuanya itu ada maksud dan tujuannya, aku percaya paham tersebut terbentuk untuk sesuatu yang lebih baik, walaupun aku ga tahu tentang itu secara utuh tapi setidaknya orang pertama yang menciptakan paham tersebut bukan orang bodoh kan, jangan sembarangan kau” tambah Bejo “dari situ apa yang sudah kau hasilkan? Bukan materi lho Dul, tapi karya…karya yang sudah kau ciptakan”

Terlihat gundul terdiam sejenak dan bejo menarik dalam rokoknya

“kok diam kau ndul?”

“aku bingung bang” terdengar pelan suara gundul

“apa yang kau bingungkan? Harusnya kau punya jawaban untuk itu Dul, tanggung jawablah, kalau kau bingung itu berarti kau hanya ikut-ikutan aja dan setengah-setengah idealis kau itu” Bejo mencoba untuk membuka Gundul untuk berdialog dengannya

 

 terlihat seorang ibu yang baru masuk dengan membawa keranjang yang berisikan sayur dan bahan pokok untuk bertahan hidup

“eh Gundul, ga sekolah kau?” tanya ibu

“em..ada kerja bakti bu di sekolah, jadi aku malas ikut bu” jawabnya

“ya udah, yang penting jangan jadi kebiasaan aja ya, kasihan orang tua kau udah menyekolahkan kau pake biaya yang ga sedikit, tapi anaknya malah menyia-nyiakan kepercayaan yang telah diberi, nih ibu beliin makanan, biasa…bakwan kecil-kecilan” meletakkan sebuah bungkusan plastik berwarna biru yang berisikan makanan ringan alias jajanan pasar di atas meja

“Jo, ada orang tu di depan, kayaknya mau beli bensin” sambil berjalan menuju dapur untuk selanjutnya menyiapkan makanan untuk siang ini

“iya bu, bentar ya Dul…aku kedepan dulu, ada rejeki datang, dimakan tu bakwannya, jangan malu-malu kau” kata Bejo kepada Gundul

“iya bang”

Gundul terlihat bingung dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Bejo kepadanya, dia mencoa berpikir-pikir apa makna yang ingin disampaikan kepadanya siang ini sambil menyesali dirinya sendiri karena dia salah alamat. Niatnya sih Cuma ingin nongkrong di bengkel Bejo, tapi malah diceramahi.

“ah…kumakan ajalah ni bakwannya, daripada bingung sendirian aku” sambil tersenyum simpul menandakan dia sudah agak mengerti maksud dari abang Bejo.

“andaikan saja keluargaku bisa hidup seperti apa yang terjadi di rumah ini” Anto pun menghabiskan rokok terakhir yang disisakan buat si empunya.

 

Wassalam,

Wendy.darmawan

Posted by bear at 11:50 pm | permalink | Add comment

taman

Taman

Friday, September 04, 2009

11:06 PM

 

Di sebuah taman yang indah sangat, terlihat seorang lelaki setengah baya yang sedang duduk di kursi kayu menikmati sore dan sebatang rokok. Itulah aku seorang lelaki yang mempunyai kenangan indah di taman itu. Seorang lelaki yang mencoba untuk menjadi lelaki, perjalanan hidup yang membawanya kembali ke taman itu menyisakan sebuah peristiwa yang hanya dapat dikenang.

“tidak terasa aku telah begitu lama meninggalkan kota ini, dan sekarang aku berada di sini untuk mengenang sejenak perjalananku dulu dan kemudian aku harus pergi lagi” sambil melihat-lihat sekeliling taman yang tidak pernah berubah dari dulu sampai saat ini

“maaf pak, boleh saya duduk disini” terdengar suara perempuan muda yang menghampiriku, meminta ijin untuk duduk di sebelahku

“eh..boleh-boleh silahkan, tapi maaf kalo rokok saya menggannggu anda” aku mempersilahkannya duduk sambil bergeser ke kiri sedikit memberi ruang lebih untuknya

“saya Arindra Faruni, tapi biasa dipanggil Runi, nama bapak siapa ya?” aku kaget mendengarnya, perkenalan yang tanpa basa-basi

“saya Weda Adyrwan, kamu panggil Weda saja…” sambil berjabat tangan kami berdua memperkenalkan diri

“berarti Runi panggilnya om Weda ya” mungkin biar terasa akrab, “ya terserah kamu saja Runi”

“oya, rumah om dimana?” Runi bertanya

“rumah saya jauh dari sini bahkan, harus menyeberang pulau dulu, tapi dulu saya pernah tinggal di daerah sini, kalo kamu sendiri?” jawabku sambil balik bertanya

“kalo Runi tinggalnya tidak jauh dari sini, hanya sekitar 5 menit jalan kaki udah nyampe kok om” sambil menunjukkan arah jalan menuju rumahnya

 

Tidak tahu kenapa, setelah itu percakapan kami terhenti. Kami saling menyibukkan diri masing-masing dan sesekali saling tersenyum.

Tak terasa udah hampir satu bungkus rokok aku habiskan sore itu

 

“om, kalo boleh tahu kedatangan om ke taman ini untuk apa ya?” dia kembali membuka obrolan

“saya…? saya kemari hanya ingin menikmati taman ini saja, udah lama sekali saya tidak maen kemari”

“Runi tahu om, pasti taman ini meninggallkan kisah klasik perjalanan hidup om toh?” dia mencoba untuk menebak dan aku hanya tersenyum mendengarnya

“kalo saya menceritakannya, ya klasik sih, dan juga terdengar sangat klise di mata orang, tapi itu sangat berbeda dengan rasa yang saya rasakan ketika saya mengingatnya. Orang terkadang hanya bisa menilai dari sisinya sebagai pendengar, dan saya sebagai pelaku yang merasakan dan melakukan peristiwa demi peristiwa dalam sejarah kehidupanku akan sangat berbeda”

“wah…ya, jangan pake emosi gitu dong om, Runi aja belum tahu ceritanya”

Aku tersenyum melihatnya “iya ya…” diapun ikut tersenyum

“ya, Runi sudah bisa menangkap cerita om tentang kenangan di taman ini kok. Dan memang benar sih om, akan sangat berbeda ketika kita berada sebagai pelaku dalam cerita daripada hanya sebagai pendengar” dia menambahkan pernyataanku barusan

 

“nah, kamu sendiri ngapain kemari?” aku balik bertanya

“lho gimana sih om, Runi kan orang asli kampung sini, rumah Runi aja dekat dengan taman ini, dan setiap sore Runi pasti kemari untuk menghabiskan senja om” jelasnya

“om, kalo om berkenan, kenangan apasih yang pernah terlaku di taman ini?” dia kembali bertanya

“hanya sebuah janji yang harus saya tepati, dan itu terucap di taman ini beberapa tahun yang lalu ketika saya diharuskan untuk kembali ke tanah kelahiran saya”

“ya pada waktu itu, saya dihadapkan pada sebuah pilihan yang tidak bisa saya tolak, walaupun sangat berat untukku tapi saya juga tidak ingin menyakiti hati orang-orang yang mengharapkan kehadiranku di negeri yang jauh disana, saya sangat berat untuk mengorbankannya, karena itu bukan pilihanku” Dia terdiam ketika itu

“dan ketika saya mulai menjalankan hari-hariku di sana, banyak kegundahan dalam hati yang bergejolak membuat keraguan itu timbul, saya tidak tahu apa yang terjadi, bahkan saya sendiri tidak mengerti dan paham atas keadaanku di sana waktu itu”

“hingga akhirnya saya merasa semua pengorbananku, perjuanganku seakan sia-sia, dan saya tidak tahu lagi apa yang harus saya lakukan, saya mentok ketika itu, saya merasa seakan-akan saya dikendalikan dengan egoku, obsesiku sendiri yang menjadikan tanya dalam hati mengapa saya berjuang untuk sesuatu yang sebenarnya tidak mau diperjuangkan, ibarat saya memberi makanan untuk seseorang tapi dia tidak mau dan tidak butuh makan dan ternyata dia tidak merasa lapar, ya…sehingga semuanya seakan semu di mataku, dan kemunafikanlah yang akhirnya terbawa dalam benakku, itu yang selalu menghantuiku”

“saya sering bertanya kepada diriku sendiri, mengapa semua ketulusan ini pada akhirnya terkesan meminta pamrih?”

“setelah itu semua bergulat dalam diriku, akhirnya saya memutuskan untuk menghentikan semua yang telah saya cita-citakan, mimpi-mimpiku saya hapus, dan semua yang menghantui ku saya buang jauh-jauh dari kehidupanku, hanya satu yang tetap saya pertahankan hingga saat ini, janjiku pada taman ini, janjiku untuk tetap setia pada taman ini dan tidak akan ada taman lain yang kurawat selain ini, sampai akhirnya saya harus meninggalkan dunia ini” aku mencoba mencurahkan semuanya pada sore itu, aku melihat perempuan yang duduk di sebelahku, dia menunduk seakan ikut merasakannya, terlihat air mata yang jatuh membasahi raut wajah yang begitu indah

“kenapa kamu menangis?” tanyaku melihat dia yang menunduk sambil mengusap air matanya

“ga papa om, Runi hanya teringat dengan hari-hari terakhir Runi disini” dia menjawab dengan pelan

“maksudnya?” aku menjadi bingung dengan pernyataannya, belum sempat aku mendapatkan jawaban darinya, mendadak seorang lelaki tua datang dan

“pak…pak…udah maghrib pak, saya memperhatikan dari jauh sepertinya bapak sedang ngobrol asik dengan seseorang” kontan, seketika itu aku kaget bukan kepalang melihat sekeliling dan lelaki tua itu.

Tanpa sadar aku ternyata berada di sebuah kompleks perkuburan dan aku duduk tepat di depan sebuah peraduan terakhir manusia, di nisan tersebut tertulis sebuah nama yang aku kenal barusan “Arindra Faruni”

“oh…iya…iya pak, waduh ada apa ini?” akupun pergi meninggalkan kompleks perkuburan tersebut sambil menyimpan tanya yang tak terjawab atas apa yang aku alami saat ini.

Cerita itu seakan tidak pernah bisa aku hilangkan dari hidupku. Senang, susah, marah, sedih perasaan bersalah dan lain sebagainya selalu aku rasakan ketika aku mengingat peristiwa itu. Dan dosa itu tidak akan pernah terabaikan begitu saja, tapi di balik semua itu aku menjadi mengerti akan sebuah makna yang dulunya selalu aku tentang habis-habisan. Belajar pada gurun tandus yang tak pernah lelah walau panas menemani hari-harinya, karena dibalik ketandusannya itu dia menyimpan sebuah oase yang akan memberikan semangat baru bagi musafir untuk melanjutkan perjalanannya. Ya semoga saja aku bisa menjadi oase di gurun tandus itu. Sudahlah, sepertinya aku diharuskan menutup rapat-rapat lembaran ini, dan tidak ada lembaran baru yang kubuka setelah ini.

 

Wassalam,

Wendy.darmawan

Posted by bear at 11:49 pm | permalink | Add comment

ceritaku

Ceritaku

Thursday, September 03, 2009

11:08 PM

 

Pernah ada sebuah kejadian, dimana ada seorang pemuda yang dilahirkan dan besar di sebuah kota besar di Negara ini yaitu Medan-Sumatra Utara. Ketika itu dia sedang menimba ilmu di pulau Jawa.

 

Suatu hari dia sedang ngobrol-ngobrol ringan dengan seorang wanita yang dia cintai, mungkin karena asik ngobrol akhirnya dalam sebuah kesempatan dia bertanya tentang sesuatu hal yang dianggapnya adalah sebuah persoalan karena dia mendapat undangan dari seorang teman dan dia kurang enak hati untuk menghadiri undangan tersebut dengan 1 atau 2 hal

“terus, kenapa rupanya kalau aku ga datang?” tanya pemuda tersebut 

wanita tersebut menjawab dengan spontan “rupanya siapa mas? dan akhirnya mereka pun saling tersenyum.

 

Ada satu peristiwa ketika pemuda yang berasal dari Medan tersebut menghadiri sebuah rapat organisasi. Dia menjadi pimpinan rapat pada waktu itu, pambahasan demi pambahasan terjadi, agenda demi agenda dibicarakan, masalah demi masalah di rembuk pada waktu itu. Dan ketika tiba saatnya untuk menyatakan sikap yang nantinya akan dijadikan sebagai hasil dari rapat ketika itu, si pemuda tersebut ingin menekankan kembali

“jadi, untuk selanjutnya kita akan menyepakati hasil dari pertemuan kita malam ini, cemana?”

tanpa sadar salah seorang dari peserta rapat yang kebetulan dilahirkan di Madura menjawab

“cem-macem…” jawabnya,

 kontan ketika itu pula suasana rapat yang tadinya tegang menjadi pada rileks semua mendengar percakapan terakhir tadi.

 

Mungkin ketika pemuda yang berasal dari Medan tersebut berada di salah satu pulau daerah Indonesia Timur, dan terjadi sebuah percakapan antar individu dimana suasana ketika itu sedang ada perbaikan instalasi listrik dari petugas PLN pada sebuah rumah, dan si pemilik rumah berkata kepada pemuda tersebut untuk mematika listriknya terlebih dahulu sebelum di perbaiki

“eh tolong kau bunuh dulu listriknya” dan kontan si pemuda yang dilahirkan di Medan tersebut takut karena dia menyangka bahwa dia disuruh membunuh petugas PLN tersebut.

 

Dan banyak lagi contoh-contoh yang menjadikan negara kita ini sangat kaya, ini baru masalah penggunaan Bahasa Persatuan kita dengan khasanah-khasanah dari masing-masing kota yang menjadi bagian dari NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia)

Inilah salah satu dari makna yang terkandung di sebuah pita yang cengkram kuat olah sang Garuda “Bhinneka Tunggal Ika”

 

Wassalam,

Wendy.darmawan

Posted by bear at 11:48 pm | permalink | Add comment

pagi

Pagi

Sunday, September 06, 2009

12:11 AM

 

Di satu sisi

Ketahuilah, tidak akan ku rebut rejekimu pagi ini

Aku tidak akan mengambilnya pagi ini

Carilah terus

Ambillah jatahku

Jangan kau sisakan buatku

Jangan kau lelah kawan

Begitu banyak yang disebar

Jangan biarkan monopoli rejeki terus terjadi

Jangan takut pada mereka

Ambil…ambillah…

Udah…

Ga usah kau hirukan muka-muka mereka

Mereka hanya tukang catat

Kau lihat sendiri

Catatan mereka hanya untuk laporan bulanan

Catatan mereka akan di catat lagi

Lagi…lagi…lagi…lagi dan lagi…

Oya…

Makanlah ini kawan

Ada sedikit yang aku bawakan

Ini rejekiku yang semalam

Habiskanlah…

Apa…?

Bukan…

Itu bukan fatwa

Itu hanya kelakar khas para pemimpi

Mereka juga tidak paham dengan fatwa

Eh…

Kelakarnya sendiri

Itu hanya omong kosong

Itu hanya topeng kayu yang suatu saat akan di makan api

Kenapa…?

Oh…

Itu hanya pengalihan masalah

Mereka itu pengecut yang sombong

Mereka itu tidak memahami masalah

Ini…?

Ini bukan solusi

Ini adalah masalah untuk menutupi masalah yang lain

 

Di sisi lain

Jelas…

Jelas tidak…mereka tidak ada sekarang

Kan udah di usir

Apa…?

Wow…itu bukanlah keberhasilan

Di-atasi-lah per-masalah-han-nya

Dihadapi masalah-masalah ini

Bukan malah dibuang begitu saja

Itu yang membuat mereka kembali lagi

Kalian sendiri kan yang mengkondisikan mereka untuk kembali

Dewasa dikitlah bung

Bijak dikitlah bung

Jangan hanya menginjak-injak dibalik ke-bijak-an

Atas nama keindahan…?

Atas nama ketertiban…?

Atas nama kepatutan…?

Atas nama kenyamanan…?

Dimana…?

Dimana nama keadilan…?

Dimana nama kemanusiaan…?

Junjung tinggi hak mereka

Hak yang terabaikan

Ya…

Gimana…

Apanya…

Oh…

Baca sendiri dong

Masak sudah pada pintar-pintar

Masih harus di-dikte lagi

Di beri arahan lagi

Tadi aku bilang kalian bodoh

Kalian tolol

Dan kalian MARAH!!!

Dan sekarang buktinya

Oh…

Begitu…

Berarti kalian tidak mau di bilang tolol

Berarti kalian akan bisa lebih menerima

Kalau dibilang ini

Semua adalah

Sebuah ketololan

Sebuah kebodohan

Dari kalian yang pintar-pintar ni ceritanya

Ya sudah kalo gitu

Terus…terusin aja

Kebijakan yang menutupi kebajikan ini

Niscaya anda…anda adalah orang-orang yang beruntung

 

Di antara kedua sisiku

Udah…

Aku mau tidur dulu

Awas kalau kalian ambil rejekiku ya

Karena

Hari ini rejekiku buat kalian bukan mereka

Dan ingat ya

Kalian tidak boleh malas

Dan hanya mengharapkan dari rejekiku

 

Wassalam

Wendy.darmawan

Posted by bear at 11:47 pm | permalink | Add comment