Belum terpikirkan
Wednesday, September 02, 2009
7:13 AM
Pagi ini seperti biasanya bangun tidur, cuci muka dan sikat gigi, dandan kecil-kecilan, sarapan, ngopi, ngerokok sebatang dan siap-siap berangkat ke tempat yang menjenuhkan “kampus”. Begitulah seorang pemuda yang bernama Panjoel Kusuma, mahasiswa Ektensi Ilmu Perpustakaan di salah satu Universitas Negeri di Negara ini, walaupun dia dari D3 Bahasa Arab, dengan modal nekat dia masuk Ekstensi Ilmu Perpustakaan tanpa bekal sedikitpun. Dan sekarang dia sedang menuai masalah dari kenekatannya itu, karena menurut aturan tidak boleh lintas jurusan, tapi menurut hasil ujian masuk, dia keterima.
“bu.. Berangkat dulu ya..salam likum” dia selalu ingat pesan dari kakeknya yang mengharuskan pamit ketika hendak berpergian.
“Memang benar kata orang, setiap pagi tuhan selalu menyebarkan rejekinya dimana-mana, nah..kalo yang ini namanya rejeki buat mataku” sambil melirik sejenak ke salah satu barisan yang sudah terbiasa menunggu angkutan umum untuk selanjutnya mengantarkan mereka ke tempat yang mengasyikan “SMU”. Masa yang indah dan tak terlupakan adalah masa ketika aku masih duduk di bangku SMU, memang belum ada teori yang menguatkan tentang hal itu tapi ini masalah kenyataan yang aku rasakan bukan lagi teori.
“ya sudahlah, aku harus berjalan terus walaupun sudah 26 tahun umurku, kuhabiskan untuk sekolah tapi ini juga untuk bekalku kelak”.
Dengan kuda besi kesayangannya yang tak jelas surat-suratnya itu yang selalu setia menemaninya kemanapun dia pergi.
“weh…memang kok, masak lampu merah pada jalan semua? Pada buta warna apa ya? Terus aku berhenti sendirian nih ceritanya, ah..malu ah..ga ada temennya”
Lho..kok dia malah ikutan ngelanggar lampu merah alias traffic light toh? Ini makna dari pepatah “ala bisa karena biasa”. Karena udah pada kebiasaan ngelanggar lampu merah, jadi yang seharusnya berhenti ketika lampu berwarna merah akhirnya bisa jalan. Untung aja pak polisi juga banyak yang ikutan ngelanggar jadi yang lain akhirnya ikut ngelanggar deh dan anehnya lagi jarang sekali ada tabrakan di setiap perempatan yang nota bene traffic light nya tidak ngaruh bagi pengguna jalan. Kok bisa ya?
“bang…” seperti biasa kalo mau parkir harus menyapa abang-abang yang ditugasi menjaga parkiran kampus biar semakin akrab, kan kita adalah saudara walaupun tidak sebapak dan seibu tapi setidaknya kita semua keturunan Adam dan Hawa.
“nah itu ada tempat kosong, si bongsor ini akan aku tancapkan di sana saja” baru aja selesai memarkirkan motor ada suara yang agak sedikit mangejutkan
“eh, motormu ada STNK nya ga?” ternyata bang Karto yang sedang bersuara
“mak..kayak polisi aja ah nanya surat segala, ada dong tapi masa berlakunya udah habis 5 tahun yang lalu bang” sambil menunjukkan suratnya ke bang karto.
“tumben motor kau ada STNKnya, biasanya ga ada”, sambil senyum manis khas bang Karto dengan alis yang diangkat-angkat dikit.
“ya sekali-kalilah bang agak tertib dikit” Wah ternyata aku udah dihafalin ni, setiap bawa motor pasti ga ada surat-suratnya.
“eh yang biasanya kau bawa mana? Yang ga ada surat-suratnya? Kok malah ganti lagi, hehehehehe…pasti masuk bengkel toh” tebak bang Karto
“benar sekali bang, maklumlah motorku usianya udah pada uzur semua, yang paling muda saja keluaran tahun 61, apalagi yang lain bang” mencoba untuk mengelak tapi ga bisa dan akhirnya ya menghibur diri sendiri deh
“hahahahahaha…memangnya kau punya motor berapa? Kayak konglongmerat aja yang ngoleksi banyak barang-barang antik, motor tua, mobil tua bahkan ada juga yang iseng-iseng ngoleksi Benda Cagar Budaya” bang Karto mulai berkelakar lagi ni kalo ditanggapi terus
“udahlah bang, aku mau masuk dulu ni, kasihan mahasiswaku udah pada nunggu tu di kelas” sambil beranjak dari tempat tempat parkir
“matamu njoel..Panjoel..kuliah D3 aja lulus 6 tahun kok malah nggaya, ya udah sana” sambil kedua tangannya di kepakkan tepat di depan dadanya menandakan usiran halus ala Karto.
Ya, begitulah Karto, yang nama lengkapnya Panji Sukarto, pegawai honorer di salah satu Universitas Negeri terkemuka di Negara ini, pengabdiannya pada kampus yang sudah hampir 40 tahun itu, hanya menyandang status pegawai honorer. Mungkin karena dia juga orang jawa dan menganut paham nrimo opo anane (nerima apa adanya) jadi masalah status kepegawaiannya tidak begitu dia permasalahkan, walaupun terkadang dia juga bingung dengan sistem dan aturan yang selalu menghambatnya ketika ada pengangkatan pegawai dari honorer menjadi tetap. Namun aku juga terkadang heran melihat bang Karto, udah tau hidupnya susah tapi disetiap harinya dia selalu saja ceria, kayak ga ada beban dalam hidupnya.
“saya dengar angkatan yang baru sekarang ada yang bukan dari D3 Ilmu perpustakaan atau Kearsipan ya?”, “kan sudah saya katakan program ini tidak bisa lintas jurusan, soalnya ini didirikan khusus buat yang ngelanjut saja”, “selain itu kita juga ga ada matrikulasinya, ya udah tanya aja dulu sama dekan ya” demikianlah pernyataan dari ketua jurusan ilmu perpustakaan beberapa waku yang lalu, dan jelas ketika itu aku kaget plus senang. Kagetnya karena berarti ini masalah, dan harus aku hadapi, senangnya adalah bahwa saya berhasil lolos ujian pertama untuk bisa mendapatkan ilmu yang sangat aku idam-idamkan sejak dulu. Nah sekarang pertanyaannya “aku bisa lolos ga pada ujian yang kedua, yaitu ngelobi dekan dan kajur kelak?” tanya Panjoel dalam hati sambil mengingat-ingat perkataan pak kajur beberapa waktu yang lalu.
Sebenarnya Panjoel sudah tahu semenjak pertama sekali dia berniat untuk mendaftar di program ekstensi tersebut, tapi dia mencoba bertanya ke dekan dan dekan menyatakan bahwa dia ikut ujian aja dulu, ntar kalo lulus dan diterima baru kita atur lagi kedepannya. Namanya juga Panjoel, dia nekat aja ikut ujian, dan ternyata lulus, ada kesempatan dia langsung registrasi dan melengkapi semua persyaratan administrasi. Ternyata posisi aman, langsung dia KRS dan memulai kuliahnya. Dan sekarang, bukan masalah sih sebenarnya, lebih tepatnya adalah mengklarifikasi posisi saja.
Begitulah Panjoel, mahasiswa yang pernah kuliah selama 6 tahun di universitas yang sangat terkenal di Indonesia dan hanya mendapatkan gelar sarjana muda. Ironis memang, tapi di satu sisi dia berhasil mengotak-atik sistem administrasi universitas tersebut dan ternyata berhasil. Ceritanya pada waktu awal dia masuk kuliah, dia aktif hanya 1 tahun dan kemudian minggat selama 1,5 tahun disambung cuti 1 tahun jadi totalnya dia kuliah selama 2 semester kemudian 5 semester dia tak pernah kuliah. Menurut aturan yang berlaku ketika seorang mahasiswa yang pernah cuti tidak resmi dan ingin melanjutkan kuliahnya lagi dia harus membayar sebanyak berapa semester dia cuti tak resminya ditambah dengan uang kuliah semester yang baru. Kenyataannya si Panjoel ketika dia akan aktif kembali dia hanya membayar uang kuliah satu semester saja, jadi yang seharusnya dia membayar sebanyak 5,4 juta rupiah, dengan lobi dan mencari celah sedikit dia hanya membayar sejumlah 1,15 jt rupiah saja. Bukannya bermaksud bermain curang tapi dia mencoba dengan celah-celah yang ada dengan tertib dia ikuti dan akhirnya berhasil KTM pun keluar dan kuliah dimulai lagi.
“wealah…dosennya belum masuk toh Lis?” pertanyaan yang sudah biasa terlontarkan setiap masuk kelas
“belum njul, mungkin ruangannya pindah lagi”
“pindah kemana? Ke ruang konverens ya” tanyaku
“mungkin saja, coba aku sms silvia dulu, tanya ruangannya dimana ya” jawabnya sambil ngetik sms untuk memastikan
Pasti, hal seperti ini selalu terjadi di setiap hari-harinya pada saat kuliah. Secara kasat mata gedung yang khusus jurusan Ilmu Perpustakaan lagi dalam perbaikan, jadi jadwal kuliah yang seharusnya di ruang C201 akhirnya harus berpindah-pindah sesuai keinginan sang dosen.
“masuk kok Jul, di perpustakaan pusat, ruang conferences” akhirnya Lilis mendapatkan info yang akurat, “ya udah, kesana aja kita sekarang” ajakku sambil berjalan keluar kelas.
“ya…semoga niatku untuk menyelesaikan kuliahku sekarang dengan semangat ‘45 ku tidak putus di tengah jalan hanya gara-gara sebuah sistem yang berlaku”
“tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina, semoga hakekatnya benar-benar ada dalam kehidupan pendidikan di negaraku tercinta ini” dan pernyataan dari seorang Wakil Rektor salah satu Universitas termegah di pulau jawa yang menyatakan bahwa ketika anda menginginkan ilmu yang bermutu maka anda harus berani membayar mahal ilmu tersebut (maksud dia materiil), wah kalo benar seperti ini adanya berarti pepatah diatas diganti saja menjadi “bayarlah dulu sampai anda menjual jiwa dan raga baru ilmu akan aku impor dari cina”
“ya sudahlah aku hanya berharap yang namanya ilmu, sekolahan, kuliahan, buku tidak menjadi komoditas pasar yang menjadi lahan basah bagi terwujudnya cita-cita luhur para pengeruk harta karun”
“kok males masuk ya…Lis aku pulang aja ya, titip absen ya, makasi Lilis yang manis”
“huhhh…dasar Panjoel” dengan agak sewot dia meneruskan perjalanannya ke ruang kuliah yang saat ini berstatus nomaden.
Wassalam,
Wendy.darmawan
All comments are moderated. Your comments will not appear here unless approved by the blog owner. Thank you.