behind every beautiful thing there's some kind of pain

Home » Post Item » gundul

gundul

September 6, 2009

Gundul

Friday, September 04, 2009

2:16 AM

 

“lagi ngapain kau Jo?”tanya seorang anak yang merasa sok dewasa kepada seorang pemuda yang benar-benar sudah dewasa

“wah, berani kali kau ya, berapa sih umur kau sekarang?” Bejo merasa direndahkan dengan pertanyaan anak tadi

“ngapain kau ke sini? Udah ga sekolah, merokok pula kau disini ya!!! Buang itu rokok kau Dul, kau pikir gampang nyari uang!” tambah berang Bejo dengan anak tadi yang bernama Anto dengan panggilan akrabnya Gundul, karena gaya rambutnya yang selalu gundul disetiap ada kesempatan untuk potong rambut

“hehe..ya jangan gitulah bang, akukan Cuma bercanda bang” sambil membuang rokoknya dengan wajah yang agak memucat karena melihat Bejo yang terlihat marah

“sini kau, ikut aku kedalam” ajak Bejo

“iya bang” sambil mengikutinya dari belakang

 

Di sebuah rumah yang berada di pinggiran kota Medan, tepatnya daerah Medan Johor masuk kedalam. Bejo seorang pemuda yang tidak lulus kuliahnya di tehnik mesin USU, ketika itu dia tersandung masalah ekonomi semenjak ditinggal bapaknya untuk selamanya karena truck yang di kemudikannya jatuh ke jurang di daerah Sumatra Barat. Bejo tinggal bersama ibu dan ketiga adiknya, dan semenjak bapaknya meninggal dia menjadi tulang punggung keluarga yang harus menghidupi ibunya dan membiayai adik-adiknya sekolah. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga dia membuka sebuah bengkel sepeda motor dan jual beli motor. Hasil yang didapat terbilang cukup untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga tapi tidak untuk hal-hal yang sifatnya pemborosan.

 

“sini kau, duduk dulu” Bejo menyuruh Gundul untuk duduk

“mau minum apa kau?” sambil melangkah menuju dapur

“ga usah bang, aku belum haus kok bang” Gundul ga berani untuk meminta

“alah, banyak kali alasan kau, masak kau ga haus, yang kau pikirnya aku ga tau kalo merokok itu bisa menimbulkan tenggorokan kering dan pengen minum Dul”

“nah, air putih aja ya” Bejo membawakan air putih untuk menjamu tamunya sambil menuangkannya ke dalam gelas kecil yang berwarna coklat tua

“kok ga sekolah kau, cabut kau ya?” tanya Bejo

“ngga bang, tadi sekolah pulang cepat, lagi ada kerja bakti” Gundul mencoba mencari alasan

 

Itulah Anto alias Gundul, seorang anak yang masih berusia 12 tahun dan masih duduk di bangku SMP di salah satu sekolah yayasan di daerah Medan Johor. Gundul yang terkenal sebagai tukang cabut sekolah itu berasal dari keluarga yang terbilang serba berkecukupan, tapi dikarenakan dia terjebak dalam dunia keglamoran anak-anak muda jaman sekarang yang mendewakan sesuatu yang disebut dengan “anti kemapanan” sehingga membawa dia ke tempat yang tidak jelas juntrungannya. Fenomena tentang kelompok masyarakat yang menghiasi kehidupan kita dengan slogan anti kemapanan tersebut tidak bisa kita jadikan devian dalam kehidupan ini. Konsep tentang anti kemapanan tersebut merupakan kritik sosial pada semakin dalamnya sebuah kesenjangan sosial yang terjadi saat ini. Idealisme pemberontak ini tidak selamanya salah dalam pandangan masyarakat awam, namun kita cenderung menganggap mereka sebagai sampah. Coba cari inti dari permasalahannya, yang sebenarnya tidak ada masalah dalam hal ini. Ketika kita tahu dan mengerti akan mimpi-mimpi mereka maka tidak bisa tidak kita akan berpikir dua kali untuk bisa mewujudkannya. Tidak sedikit dari mereka yang berasal dari keluarga yang mampu secara materi, namun ada faktor-faktor yang menjadikan mereka untuk turun ke jalan, mencari sebuah kehidupan yang bebas tak terikat dengan aturan-aturan yang ada. Broken home salah satunya. Ada pelajaran yang dapat kita ambil dari kehidupan mereka yaitu sebuah kebersamaan yang notabene untuk kehidupan bermasyarakat di Negara ini sudah semakin rentan, bahkan hampir punah. Walaupun di sisi lain ada hal-hal yang negatif yang juga mereka lakukan dalam kehidupannya.

 

“alasan kau ada aja Dul, dari dulu… yang kau bilang ga belajarlah, ada kerja bakti, gurunya ga datang, sampai kadang kau bilang nyasar, lupa jalan ke sekolah… Dul… Gundul… sini… bagi dulu rokok kau sebatang” pinta Bejo

“ini bang” sambil mengeluarkan sebungkus rokok yang biasa di konsumsi para muda-mudi bangsa ini

“eh, udah sampai mana perjalanan kau, yang sering kau bilang dengan anti kemapanan itu Dul?” tanya Bejo sambil membakar rokok pemberian Gundul

“apa kau masih di situ-situ aja, di simpang empat, bawa gitar kecil, nyanyi ga jelas dengan harapan mendapat imbalan dari pengendara mobil-mobil mewah itu, terus kalo ada yang berkenan kau ikut menumpang di bak belakang pick-up untuk pergi ke simpang yang lain, hah…?” Bejo melanjutkan pertanyaannya

“abang ini kenapa sih, selalu saja tanya masalah itu, biar tahu aja ya bang, itu idealisku bang, itu cara aku untuk memberontak sama kondisi Negara dan Pemerintah dan kroni-kroninya bang” Gundul memberanikan diri untuk mengelak dari pertanyaan Bejo

“aku tahu itu ndul, tapikan itu bukan cara yang pas Dul, kau juga butuh ilmu Dul, bukan terus idealis anti kemapanan kau salah gunakan dan kau jadikan alasan untuk hidup bebas, dengan seenaknya tanpa ada aksi yang berarti”

“sekarang niat kau ikut itu apa Dul? Kalo hanya ikut-ikutan biar terlihat paten dengan potongan-potongan ala gembel tapi otak kau juga buntu, sama aja Dul, mendingan kau maen sinetron aja dapat duit, ngetop bisa nampang lagi. Negara ini malah tambah kacau, dan kau ikut andil mengacaukan Negara ini kalau yang terjadi adalah paham ikut-ikutan, semuanya itu ada maksud dan tujuannya, aku percaya paham tersebut terbentuk untuk sesuatu yang lebih baik, walaupun aku ga tahu tentang itu secara utuh tapi setidaknya orang pertama yang menciptakan paham tersebut bukan orang bodoh kan, jangan sembarangan kau” tambah Bejo “dari situ apa yang sudah kau hasilkan? Bukan materi lho Dul, tapi karya…karya yang sudah kau ciptakan”

Terlihat gundul terdiam sejenak dan bejo menarik dalam rokoknya

“kok diam kau ndul?”

“aku bingung bang” terdengar pelan suara gundul

“apa yang kau bingungkan? Harusnya kau punya jawaban untuk itu Dul, tanggung jawablah, kalau kau bingung itu berarti kau hanya ikut-ikutan aja dan setengah-setengah idealis kau itu” Bejo mencoba untuk membuka Gundul untuk berdialog dengannya

 

 terlihat seorang ibu yang baru masuk dengan membawa keranjang yang berisikan sayur dan bahan pokok untuk bertahan hidup

“eh Gundul, ga sekolah kau?” tanya ibu

“em..ada kerja bakti bu di sekolah, jadi aku malas ikut bu” jawabnya

“ya udah, yang penting jangan jadi kebiasaan aja ya, kasihan orang tua kau udah menyekolahkan kau pake biaya yang ga sedikit, tapi anaknya malah menyia-nyiakan kepercayaan yang telah diberi, nih ibu beliin makanan, biasa…bakwan kecil-kecilan” meletakkan sebuah bungkusan plastik berwarna biru yang berisikan makanan ringan alias jajanan pasar di atas meja

“Jo, ada orang tu di depan, kayaknya mau beli bensin” sambil berjalan menuju dapur untuk selanjutnya menyiapkan makanan untuk siang ini

“iya bu, bentar ya Dul…aku kedepan dulu, ada rejeki datang, dimakan tu bakwannya, jangan malu-malu kau” kata Bejo kepada Gundul

“iya bang”

Gundul terlihat bingung dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Bejo kepadanya, dia mencoa berpikir-pikir apa makna yang ingin disampaikan kepadanya siang ini sambil menyesali dirinya sendiri karena dia salah alamat. Niatnya sih Cuma ingin nongkrong di bengkel Bejo, tapi malah diceramahi.

“ah…kumakan ajalah ni bakwannya, daripada bingung sendirian aku” sambil tersenyum simpul menandakan dia sudah agak mengerti maksud dari abang Bejo.

“andaikan saja keluargaku bisa hidup seperti apa yang terjadi di rumah ini” Anto pun menghabiskan rokok terakhir yang disisakan buat si empunya.

 

Wassalam,

Wendy.darmawan

Posted by bear at 11:50 pm | permalink

All comments are moderated. Your comments will not appear here unless approved by the blog owner. Thank you.

Add a comment