Obrolan sore
Wednesday, September 02, 2009
9:10 PM
“Rin, ini yang kau namakan dengan demokrasi? Setiap ada masalah selalu saja demon, nanti kalo mau dibubarkan sama aparat terus mereka malah melawan dan akhirnya dibubarkan secara paksa, nanti polisinya kena kasus HAM, cemana nya rin, apa pendapat kau, kan kau mahasiswa, kusekolahkan ke Jawa” terlihat seorang bapak yang lagi asik nonton berita sore bersama anaknya Rinto.
“cemana ya pak, kalo aku sih sebenarnya malas kali lihat yang kayak gini. Dulu tahun 98, kita sebagai mahasiswa berdemo untuk menyampaikan aspirasi memang benar-benar demo pak dan bapak lihat sendirilah hasilnya, kami berhasil menumbangkan rezim orde baru” jawab Rinto
“iya Rin, Tapi sekarang inilah, katanya reformasi, mana perubahannya? Masak yang berubah Cuma presidennya, kondisi rakyat juga secara keseluruhan ga ada yang berubah, masih sama kayak dulu. Malah kalo menurut aku lebih baik yang dulu daripada sekarang. Minimal kita merasa aman tinggal di Indonesia” sang bapak pun kembali bertanya
“gini lho pak, idealisme mahasiswa jaman sekarang berbeda dengan yang dulu, sekarang mereka lebih kepada idealisme pasar pak, kalo menurut aku demon itu sekarang sudah tidak murni seperti dulu, kita lihat sajalah pak, sekarang orang demon jarang yang nyampe 100 orang paling banyak 50 orang, malah terkadang lebih banyak wartawan yang meliput aksi daripada peserta aksinya. Banyak faktor yang mempengaruhi perubahan idealis tersebut salah satunya yang paling terlihat adalah mahasiswa yang bisa kuliah rata-rata anak-anaknya orang berduit pak, biaya sekolah mahalnya minta ampun sekarang. Selain itu keresahan yang dirasakan para mahasiswa sudah tidak sama seperti dulu, coba bapak bayangkan keresahan yang dialami orang yang berduit sama orang yang tidak berduit, kan lain pak” bapak pun terlihat serius mendengarkan si anak yang seperti berorasi
“nah para mahasiswa yang sekarang, keresahannya adalah takut ketinggalan jaman, artinya hari ini ada produk baru apa ya? Aku harus punya. Wah fashion terbaru apa ya? Masak aku ga beli, mak…dia udah punya blackberry ah.. masak aku masih nokia 3315. jadi seperti itu pak yang terjadi sekarang. Dan juga obrolan yang terjadi antar mahasiswa paling-paling curhat masalah percintaan, gosip kesana kemari, kalo ada yang memulai dengan tema-tema masalah sosial, politik, si-kon negara, mereka cenderung menghindar pak dengan alasan obrolannya terlalu berat” si rinto pun tampak serius menjelaskan pada bapaknya
“tapi rin, mahasiswa kan… apa itu istilahnya aku lupa, bentar…bentar…” si bapak mencoba mengingat-ingat
“nah… agent of changes kata orang-orang hebat itu rin” si bapak memancing lagi kayaknya tu
“agent of changes pak, ya itulah pak… peran tersebut masih di jalankan sama para mahasiswa sekarang pak, tapi yang dirubah sama mereka adalah pasar pak, bukan merencanakan perubahan untuk negara menjadi lebih baik. Biar bapak tau aja ya, biaya sekolah yang cukup mahal dan masa study yang dibatasi, menjadikan para mahasiswa yang sebenarnya punya potensi menuju agent of changes tersebut menjadi study oriented. Cemanalah pak, kalo telat lulusnya nanti di DO padahal uang udah keluar banyak, itu makanya banyak perguruan tinggi yang meluluskan sarjana-sarjana siap saji, alias instan dan mereka kalo dapat kerja isinya Cuma uang agar cepat kaya, kalo yang ga dapat-dapat kerja cenderung memilih jalan untuk putus asa, menyesali nasib tanpa mau bergerak alias jadi malas pak, dengan dalih aku bergelar S1 kok malah jadi buruh” jelas si Rinto kepada bapaknya
“ooo gitu ya, sekarang gini rin, aku mau tanya, menurutmu demokrasi itu apa rin? Terus batasan dari HAM itu dimana letaknya?” bapaknya kembali bertanya sambil menenggak segelas kopi kesukaannya.
“kalau menurut aku demokrasi itu adalah suatu paham yang menganut kebebasan untuk mengemukakan pendapat, konsep demokrasi kan dari kita, untuk kita dan kembali ke kita alias kedaulatan sepenuhnya berada di tangan rakyat. Jadi pak, ketika kita merasa ada sesuatu yang tidak cocok dihati dan itu mewakili orang banyak bukan individu atau golongan kita berhak untuk menyuarakannya, menyampaikannya kepada para wakil rakyat yang sudah dipilih oleh rakyat itu sendiri, dan si wakil rakyat harus mau mendengarkan aspirasi yang disampaikan untuk selanjutnya di tindak lanjuti ke tingkat yang selanjutnya, idealnya seperti itu. Kalo masalah HAM aku tidak begitu paham pak, soalnya menurut aku HAM atau hak azasi manusia itu adalah milik-NYA, dan ketika ada orang yang mengotak-atik tentang HAM berarti dia sudah memasuki ranah-NYA. Manusia hanya bisa membela HAM tanpa bisa memilah-milah hukumnya” Rinto terlihat semangat menjelaskan semua pertanyaan-pertanyaan bapaknya
“itu berarti para anggota DPR yang duduk di kursi-kursi berlapiskan kekuasaan berkat kita sebagai rakyat ya rin, coba kalo ga rakyatnya mereka kan ga dapat kerjaan” ungkap bapak dengan sedikit tersenyum yang menyimpan makna tak terbaca
“ya udahlah Rin, masalah ini semua kelak akan jadi tugasmu dan teman-temanmu untuk mamperbaiki dan menjadikan negara ini menjadi negara yang besar. Bukan hanya besar ngomong tapi juga besar di mata dunia dan disegani kayak jaman kakek kau dulu, ingat itu rin!” sambil menepuk bahuku dan beranjak dari duduknya dan tersenyum lagi “oya…ngomong-ngomong pintar juga anakku yang satu ini ya, walaupun hanya mengamati dari sudut pandang kenyataan tapi memang itulah kebenaran yang terlaku sekarang ini kan, ga sia-sia aku menyekolahkan kau sampai 6 tahun lamanya. Tapi kok masih bergelar sarjana muda ya, hahahahaha…” bapak pun meninggalkan rinto sendirian di depan tv
“eh…jangan gitulah pak, malah nyindir aku pula kau pak” Rinto terlihat bingung tak menentu melihat ulah bapaknya yang agak aneh menurutnya.
Wassalam,
Wendy.darmawan
All comments are moderated. Your comments will not appear here unless approved by the blog owner. Thank you.