Taman
Friday, September 04, 2009
11:06 PM
Di sebuah taman yang indah sangat, terlihat seorang lelaki setengah baya yang sedang duduk di kursi kayu menikmati sore dan sebatang rokok. Itulah aku seorang lelaki yang mempunyai kenangan indah di taman itu. Seorang lelaki yang mencoba untuk menjadi lelaki, perjalanan hidup yang membawanya kembali ke taman itu menyisakan sebuah peristiwa yang hanya dapat dikenang.
“tidak terasa aku telah begitu lama meninggalkan kota ini, dan sekarang aku berada di sini untuk mengenang sejenak perjalananku dulu dan kemudian aku harus pergi lagi” sambil melihat-lihat sekeliling taman yang tidak pernah berubah dari dulu sampai saat ini
“maaf pak, boleh saya duduk disini” terdengar suara perempuan muda yang menghampiriku, meminta ijin untuk duduk di sebelahku
“eh..boleh-boleh silahkan, tapi maaf kalo rokok saya menggannggu anda” aku mempersilahkannya duduk sambil bergeser ke kiri sedikit memberi ruang lebih untuknya
“saya Arindra Faruni, tapi biasa dipanggil Runi, nama bapak siapa ya?” aku kaget mendengarnya, perkenalan yang tanpa basa-basi
“saya Weda Adyrwan, kamu panggil Weda saja…” sambil berjabat tangan kami berdua memperkenalkan diri
“berarti Runi panggilnya om Weda ya” mungkin biar terasa akrab, “ya terserah kamu saja Runi”
“oya, rumah om dimana?” Runi bertanya
“rumah saya jauh dari sini bahkan, harus menyeberang pulau dulu, tapi dulu saya pernah tinggal di daerah sini, kalo kamu sendiri?” jawabku sambil balik bertanya
“kalo Runi tinggalnya tidak jauh dari sini, hanya sekitar 5 menit jalan kaki udah nyampe kok om” sambil menunjukkan arah jalan menuju rumahnya
Tidak tahu kenapa, setelah itu percakapan kami terhenti. Kami saling menyibukkan diri masing-masing dan sesekali saling tersenyum.
Tak terasa udah hampir satu bungkus rokok aku habiskan sore itu
“om, kalo boleh tahu kedatangan om ke taman ini untuk apa ya?” dia kembali membuka obrolan
“saya…? saya kemari hanya ingin menikmati taman ini saja, udah lama sekali saya tidak maen kemari”
“Runi tahu om, pasti taman ini meninggallkan kisah klasik perjalanan hidup om toh?” dia mencoba untuk menebak dan aku hanya tersenyum mendengarnya
“kalo saya menceritakannya, ya klasik sih, dan juga terdengar sangat klise di mata orang, tapi itu sangat berbeda dengan rasa yang saya rasakan ketika saya mengingatnya. Orang terkadang hanya bisa menilai dari sisinya sebagai pendengar, dan saya sebagai pelaku yang merasakan dan melakukan peristiwa demi peristiwa dalam sejarah kehidupanku akan sangat berbeda”
“wah…ya, jangan pake emosi gitu dong om, Runi aja belum tahu ceritanya”
Aku tersenyum melihatnya “iya ya…” diapun ikut tersenyum
“ya, Runi sudah bisa menangkap cerita om tentang kenangan di taman ini kok. Dan memang benar sih om, akan sangat berbeda ketika kita berada sebagai pelaku dalam cerita daripada hanya sebagai pendengar” dia menambahkan pernyataanku barusan
“nah, kamu sendiri ngapain kemari?” aku balik bertanya
“lho gimana sih om, Runi kan orang asli kampung sini, rumah Runi aja dekat dengan taman ini, dan setiap sore Runi pasti kemari untuk menghabiskan senja om” jelasnya
“om, kalo om berkenan, kenangan apasih yang pernah terlaku di taman ini?” dia kembali bertanya
“hanya sebuah janji yang harus saya tepati, dan itu terucap di taman ini beberapa tahun yang lalu ketika saya diharuskan untuk kembali ke tanah kelahiran saya”
“ya pada waktu itu, saya dihadapkan pada sebuah pilihan yang tidak bisa saya tolak, walaupun sangat berat untukku tapi saya juga tidak ingin menyakiti hati orang-orang yang mengharapkan kehadiranku di negeri yang jauh disana, saya sangat berat untuk mengorbankannya, karena itu bukan pilihanku” Dia terdiam ketika itu
“dan ketika saya mulai menjalankan hari-hariku di sana, banyak kegundahan dalam hati yang bergejolak membuat keraguan itu timbul, saya tidak tahu apa yang terjadi, bahkan saya sendiri tidak mengerti dan paham atas keadaanku di sana waktu itu”
“hingga akhirnya saya merasa semua pengorbananku, perjuanganku seakan sia-sia, dan saya tidak tahu lagi apa yang harus saya lakukan, saya mentok ketika itu, saya merasa seakan-akan saya dikendalikan dengan egoku, obsesiku sendiri yang menjadikan tanya dalam hati mengapa saya berjuang untuk sesuatu yang sebenarnya tidak mau diperjuangkan, ibarat saya memberi makanan untuk seseorang tapi dia tidak mau dan tidak butuh makan dan ternyata dia tidak merasa lapar, ya…sehingga semuanya seakan semu di mataku, dan kemunafikanlah yang akhirnya terbawa dalam benakku, itu yang selalu menghantuiku”
“saya sering bertanya kepada diriku sendiri, mengapa semua ketulusan ini pada akhirnya terkesan meminta pamrih?”
“setelah itu semua bergulat dalam diriku, akhirnya saya memutuskan untuk menghentikan semua yang telah saya cita-citakan, mimpi-mimpiku saya hapus, dan semua yang menghantui ku saya buang jauh-jauh dari kehidupanku, hanya satu yang tetap saya pertahankan hingga saat ini, janjiku pada taman ini, janjiku untuk tetap setia pada taman ini dan tidak akan ada taman lain yang kurawat selain ini, sampai akhirnya saya harus meninggalkan dunia ini” aku mencoba mencurahkan semuanya pada sore itu, aku melihat perempuan yang duduk di sebelahku, dia menunduk seakan ikut merasakannya, terlihat air mata yang jatuh membasahi raut wajah yang begitu indah
“kenapa kamu menangis?” tanyaku melihat dia yang menunduk sambil mengusap air matanya
“ga papa om, Runi hanya teringat dengan hari-hari terakhir Runi disini” dia menjawab dengan pelan
“maksudnya?” aku menjadi bingung dengan pernyataannya, belum sempat aku mendapatkan jawaban darinya, mendadak seorang lelaki tua datang dan
“pak…pak…udah maghrib pak, saya memperhatikan dari jauh sepertinya bapak sedang ngobrol asik dengan seseorang” kontan, seketika itu aku kaget bukan kepalang melihat sekeliling dan lelaki tua itu.
Tanpa sadar aku ternyata berada di sebuah kompleks perkuburan dan aku duduk tepat di depan sebuah peraduan terakhir manusia, di nisan tersebut tertulis sebuah nama yang aku kenal barusan “Arindra Faruni”
“oh…iya…iya pak, waduh ada apa ini?” akupun pergi meninggalkan kompleks perkuburan tersebut sambil menyimpan tanya yang tak terjawab atas apa yang aku alami saat ini.
Cerita itu seakan tidak pernah bisa aku hilangkan dari hidupku. Senang, susah, marah, sedih perasaan bersalah dan lain sebagainya selalu aku rasakan ketika aku mengingat peristiwa itu. Dan dosa itu tidak akan pernah terabaikan begitu saja, tapi di balik semua itu aku menjadi mengerti akan sebuah makna yang dulunya selalu aku tentang habis-habisan. Belajar pada gurun tandus yang tak pernah lelah walau panas menemani hari-harinya, karena dibalik ketandusannya itu dia menyimpan sebuah oase yang akan memberikan semangat baru bagi musafir untuk melanjutkan perjalanannya. Ya semoga saja aku bisa menjadi oase di gurun tandus itu. Sudahlah, sepertinya aku diharuskan menutup rapat-rapat lembaran ini, dan tidak ada lembaran baru yang kubuka setelah ini.
Wassalam,
Wendy.darmawan
All comments are moderated. Your comments will not appear here unless approved by the blog owner. Thank you.